Sabtu, 01 Agustus 2015

“CINTA DI TOLAK BAPAK BERTINDAK”




Karya : Sazhmyta Wulandari
(Cerita Ini Hanyalah Fiktif Belaka, Apabila Ada Kesamaan Kejadian, Nama Dan Tempat Itu Hanya Kebetulan Belaka)

Babak Pertama
Adegan1              : Sebuah ruang keluarga dari keturunan ningrat atas nama R.M Jaladri. Beliau sedang membaca koran, terhidang kopi dan camilan, istrinya menemani, menyulam sebuah sapu tangan.
R.M Jaladri         : Bu, bapak dengar anak kita semata wayang, R.M Sahid, kecantol sama gadis desa diujung sana. Bagaimana ceritanya, bu anakmu kok bisa begitu.
Istri                      : (masih terus menyulam) Ibu ya ndak tahu to, pak.
Rm. Jaladri          : Lho, piye tho ibu ini, wong tiap hari di rumah kok bilang nggak tahu. Harusnya ya tau, anak itu jangan di diamkan saja, tapi ditanyai ini itu.biar kita tahu perkembangan mental dan pikirannya. Ngurus anak satu saja ndak bisa kok mau nambah (berhenti membaca koran, minum kopi, baca koran lagi)
Istri                      : (Ngambek, berhenti menyulam) Bapak ini bisanya Cuma menyalahkan terus. Yang namanya istri apalagi ibu, dimana-mana ya sibuk. Masak, nyuci, setrika, bersih-bersih rumah….(pembicaraannya terpotong)
R.M Jaladri         : Alaah, itukan alasan ibu saja. Kita ini kan punya si Parti. Kalau semua urusan ibu yang kerjakan, lalu apa kerjaan si Parti ?
Istri                      : Tuh (menunjuk dengan mata kesudut ruangan sebab tangannya kembali menyulam)
R.M Jaladri         : (Menengok lalu kembali duduk sembari geleng-geleng kepala) aku kok jadi bingung sendiri sih, ibu yang terlalu baik atau Parti yang kebangeten. (diam sejenak) Parti… Parti… (memanggil)
Parti                     : (Tidak menyahut, masih asyik dengan tukang kebun)
R.M Jaladri         : Parti !!!
Adegan 2
Parti                     : (Parti masuk, lari tergopoh-gopoh, gugup) i…iya, ndoro. Saya parti ((tukang kebun keluar, kesal)
R.M Jaladri         : Siapa bilang kamu kristin hakim ! (parti tertunduk) dari mana saja kamu, dari tadi di panggil nggak datang-datang. Masak? (nada menyindir)
Parti                     : Ndak, ndoro (gugup)
R.M Jaladri         : Lantas ?
Parti                     : Anu ndoro, saya…saya dari mojok (polos & lugu)
R.M Jaladri         : Mojok ? keadaan genting seperti ini, kamu masih bisa mojok ? aduh aduh Parti…Parti….aduuh…(mengelus dada, istri berada di belakang R.M Jaladri memijat pundak)
Istri                      : Sabar, pak (memijat terus)
Parti                     : Lho, ada apa tho ini? Saya ndak ngerti, ndoro. Suer ! (mengangkat dua jarinya)
R.M Jaladri         : (Sudah agak tenang) parti…
Parti                     : Saya, ndoro
R.M Jaladri         : Apa kamu saya sekali ndak tau  tentang hubungan anakku, R.M Sahid, dengan gadis desa itu ?
Parti                     : (Senang) oh, kalau tentang itu saya sudah taudari dulu, ndoro. Lha wong… saya yang jadi mak jomblangnya (bangga)
R.M Jaladri & istri      : (Kaget) apa ?! (saling berpandangan, geleng-geleng kepala)
Parti                     : Iya, ndoro. Saya yang jadi mak comblangnya, neng parti (sambil menepuk dadanya) hehe, untung R.M Sahid tidak kecantol sama saya (genit)
Istri                      : Huu jangan kecentilan kamu, parti ( duduk dan menyulam lagi)
Parti                     : Lho, apa ndoro ini ndak sadar ? witing trisno jalaran soko kulino
R.M Jaladri         : Ah sudah-sudah. Kok malah ribut sendiri. Parti
Parti                     : Saya, ndoro
R.M Jaladri         : Ceritanya bagaimana, kok bisa kamu jadi mak comblang mereka ? oh, siapa nama gadis desa itu, Parti ?
PARTI                : Ng… namanya Ivon, ndoro
R.M Jaladri& Istri       : Hah, Ivon ? (saling memandang)
Istri                      : (Menggerutu, masih menyulam) kok ada wong ndeso nama Ivon to ti, Parti.
Parti                     : Iya, ndoro. Itu nama gaulnya, ivon. Sedangkan nama aslinya ehm… Ponirah
R.M Jaladri         : Ponirah ? yang dulu terpidana itu ?
Parti                     : Bukan, ndoro (nada tinggi, membela). Yang ini…ponirah terpikat cinta.
Istri                      : Hush, ora sembrono, parti
Poarti                   : Maaf, ndoro
R.M Jaladri         : Trus…lanjutkan ceritamu tadi
Parti                     : (Mengangguk). Meskipun Ivon itu gadis desa tapi wajahnya cantik sekali, begitu juga hatinya. Sebenarnya dia cerdas ndoro, tapi dia tidak sekolah. Maklum, pak Turonggo, bapaknya Ivon. Orang miskin… cacat lagi, tapi hatinya baik. Mereka tinggal berdua di gubuk sebab istrinya pak Turonggo sudah lama meninggal
R.M Jaladri         : Turonggo ? (seperti terkenang pada seseorang). Seperti nama sahabatku saat muda dulu, malang benar nasibnya. Dia terjatuh dalam jurang saat kami mengadakan pendakian. Tidak diketahui rimbanya. Mungkin sekarang dia telah tiada atau ah entahlah. Teruskan saja ceritamu
Parti                     : Pak Turonggo lebih sering di rumah, tirakat. Sedangkan ivon berjualan tempe goreng untuk menyambung hidup mereka. Nah, gara-gara tempe goreng itulah yang membuat R.M Sahid jatuh cinta, ndoro
R.M Jaladri         : Aduh aduh…anakkku jajanan tempe, Bu
Istri                      : Iya pak, apa steak yang ibu hidangkan selama ini kurang enak ?
R.M Jaladri         : Enak…enak kok, bu. Bapak suka steak itu. Steak apa namanya, bu ?
Istri                      : Steak tempe (malu)
R.M Jaladri         : Alaah (berdiri) ya itu, gara-gara ibu buat steak tempe itu, anakku R.M Sahid jadi tau rasanya tempe. Sudah… parti, kau panggil R.M Sahid, suruh dia pulang. Aku ingin bicara dengannya
Parti                     : Baik, ndoro (parti keluar, lampu mati, ganti setting)
Babak kedua 
Adegan 1             : Sebuah gazebo tanpa atap, suara air sungai dan burung. Dilatar rumah.
R.M Sahid           : Dek Ivon (merayu) makin hari, tempe goreng bikinan dek Ivon tambah uenak.
Ivon                     : Mm… mas raden eh raden mas suka tempe buatan saya ?
R.M Sahid           : Ya jelas apalagi kalau pas hangat. Hihi… tambah uenak dek
Ivon                     : (tersipu)
R.M Sahid           : (Meniup seruling sebentar) sepertinya orang tuaku sudah tau hubungan kita (tukar pikiran)
Adegan 2             : (Tukang kebun masuk, menggerutu karena kencannya dengan si Parti digangguoleh R.M Jaladri)
Ivon                     : Lalu, bagaimana mas raden ?
Tukang kebun     : Ah, untung raden disini (mendekati R.M Sahid dan Ivon)
R.M Sahid           : Ada apa, Suto ? ada kabar apa?
Tukang kebun     : Saya juga tidak tau, raden. Tapi sepertinya, ndoro Jaladri sedang panik. Sampai-sampai kencan saya terganggu sama neng Parti (menggerutu)
R.M Sahid           : Ada apa ya ? mungkinkah mereka sudah mengetahui hubunganku dengan Ivon?
Ivon                     : Mungkin mereka ndak suka mas raden bergaul dengan saya
R.M sahid           : Kenapa kamu berpikiran seperti itu Ivon ?
Ivon                     : Wajar kalau saya mempunyai kesi,pulan sepertiitu. Saya kan anak orang miskin, tidak punya derajat apalagi martabat. Berjuala tempe laku saja sudah untung
R.M Sahid           : Ivon… (pembicaraan terpotong)
Adegan 3             : (Pak Turonggo masuk. Tangan keduanya patah tinggal sesiku, menghampiri mereka seraya berkata)
Pak Turonggo      : Benar yang dikatakan anakku, raden, kami memang orang, kami tidak punya apa-apa yang patut dibangakan. Kami tidak setara dengan raden. Ingat raden, loyang tidak seimbang dibanding dengan emas
R.M Sahid           : Tapi hati kalian baik, tulus. Saya saja betah tinggal disini. Ya, dek ?
Ivon                     : (tersipu)
Pak Turonggo      : Saya tidak melarang raden bergaul dengan anak saya. Tapi kalau memang orang tua raden tidak menghendakinya, sebaiknya raden mengalah. Biar bagaimanapun, kami menyadari siapa kami dan siapa raden
Adegan4              : (Parti masuk, lari tegopoh-gopoh)
Parti                     : Raden…raden…(mengatur napas) untung raden disini
R.M Sahid& Ivon       : (Beranjak dari duduknya) ada apa Parti ?
Parti                     : (Beralih ke Suto) eh, kang Suto (sok mesra, berdua)
R.M Sahid           :(Mengingatkan)
Parti                     : eh, maaf raden. Anu, raden disuruh pulang sama ndoro Jaladri. Katanya ada yang mau dibicarakan dengan raden. Penting
Semua                 : (Saling memandang satu sama lain)
R.M Sahid           : (Mendekati Parti) apa Parti tau, kira-kira belaiau ingin berbicara tentang apa ?
Parti                     : (Mengangguk)
R.M Sahid           : Tentang apa, Parti ? ayo ngomong
Parti                     : Mm… tentang …hubungan raden dengan (menunjuk Ivon)
Pak turonggo       : Benar dugaanmu, raden. Ndoro Jaladri sudah tau hubungan kalin. Lantas, sekarang bagaimana ?
R.M Sahid           : (Bingung) ah, sudah semestinya bapak dan ibu tau hubungan saya dengan Ivon. Saya akan pulang. Kalau perlu, saya akan meminta bapak untuk melamarkan Ivon untuk saya, hari ini juga
Parti& Suto         :Oh…(genit, pura-pura terharu)
Ivon                     : Bagaimana kalau orang tua mas raden tidak setuju ? (khawatir)
Parti& Suto         : Iya (mengangguk-angguk)
R.M Sahid           : Aku sudah menjatuhkan pilihan denganmu, Ivon. Aku mencintaimu.berbekal keyakinan yang tulus, aku percaya akan kata hatiku. Ayo, kau kubawa serta mengharap kepastian
Ivon                     : Tapi mas raden… (melihat bapaknya)
Pak turonggo       : (Menghampiri kedua anak itu, R.M Sahid dan Ivon) kalau kalian memang saling mencintai dan yakin atas perasaan kalian, pergilah. Jangan jadikan keraguan sebagai penghalang. Bapak akan menyusul perjalanan kalian
R.M Sahid&Ivon        : (Berlutut memohon restu) do’akan kami, pak !
Pak Turonggo      : Ya…ya…berangkatlah anak-anakku (R.M Sahid & Ivon keluar, Parti & Suto mengiring dibelakangnya, lampu mati, sound)
Babak ketiga
Adegan 1             : Ruang keluarga (seperti babak pertama)
R.M Jaladri         : (Mondar-mandir)
Istri                      : (Menyulam, sesekali memperhatikan R.M Jaladri) ada apa to, pak ? dari tadi kok mondar-mandir kayak wong bingung
R.M Jal;adri        : Wong bingung ? (duduk menghampiri) aku ini emanag lagi bingung, heran plus nggak percaya dengan apa yang menimpa anak kita. Kita ini ningrat lho bu, eling ! mosok anak kita jatuh cinta Cuma gara-gara tempe. Memang kita ndak biasa makan daging apa ?
Istri                      : Sabar pak, jangan marah-marah gitu toh. R.M Sahid kan masih muda, anak kita itu lagi dalam masa puber
R.M Jaladri         : Puber apa, wong dia sudah berumur kok
Istri                      : Nah apalagi sudah berumur. Wajarka kalau ingin punya pendamping. Lagian, ibu juga sudah kepingin nimang cucu. Habis, minta anak lagi nggak dikasih sih sama bapak
R.M Jaladri         : Kalau masalah cucu, bapak juga kepingin punya cucu. Tapi kenapa harus dengan bakul tempe ? aku ndak mau anakku besar karena tempe apalagi punya mental, mental tempe
Istri                      : Alaah, bapak dulu juga makan tempe, sekarang juga makan tempe. Nyatanya, steak tempe itu bapak habiskan
R.M Jaladri         : Lho…itu lain, bu (berusaha membela diri)
Istri                      : Lain apanya ? toh sama-sama tempe (ngotot)
R.M Jaladri         : Tapi bapak kan ningrat, bu (sok sombong)
Istri                      : (Mengejek) apalagi ningrat. Ningrat kok mangan tempe
R.M Jaladri         : Lho, ibu kok jadi belain gadis itu. Siapa namanya aa…Nipon…eh…Klepon…eh bukan…siapa bu ?
Istri                      : Imron eh Imron… Ivon. Iya pak, Ivon. Ibu jadi penasaran sama gadis itu. Jangan-jangan, Cuma ingin harta kita saja. Cewek matre gitu loh
R.M Jaladri         : Ya, bapak juga curiga dia punya niat seperti itu (berpikir sejenak) ah, tidak. Astaghfirullahal adziim… istighfar bu
Istri                      : (Bingung) ada apa to, pak ?
R.M Jaladri         : Kita sudah su’udzon sama orang, bu. Ningrat ya ningrat tapi akhlak kita jangan ningratan, bu. Istighfar (menyesal)
Istri                      : Astaghfirullahal adziim. Iya pak, kita sudah suudzon. Ampuni kami Gusti, ampuni kami
R.M Jaladri         : (Menutup muka)
Adegan 2             : R.M Sahid & Ivon masuk, diiringi musik + Parti & Suto)
R.M Sahid           : Ehem (pura-pura batuk)
R.M Jaladri         : (Bersikap sepeti biasa, menjaga wibawa, bangun dari duduknya dan kacak pinggang) dari mana, anakku ?
R.M Sahid           : Ananda dari tempat Ivon. Perkenalkan, ini Ivon, kekasih ananda.
R.M Jaladri         : (Mengamati Ivon) oh, jadi ini gadis yang membuatmu jadi suka makan tempe
Istri                      : Sudahlah, pak jangan ngomongin tempe terus. Ibu juga tersinggung. Bapak apalagi, meskipun dibuat steak tetap saja dari tempe
R.M Jaladri         : (Mengangguk-angguk, setuju) anakku, sadarkah engkau akan perbuatanmu ? sadarkah siapa perempuan disampingmu ?
R.M Sahid           : Ananda sadar sepenuhnya. Ananda mencintainya, tulus. Ananda ingin bapak melamarkannya untuk saya
R.M Jaladri         : Apa ? lancang kamu, Sahid. (bersikap menampar)
Seluruh aktor       : (Bingung, membela R.M Sahid)
Adegan 3             : (Pak turonggo masuk, musik)
Pak turonggo       : Tunggu ( agak diluar, belum jelas benar. Perlahan masuk dengan dialog)
R.M Jaladri         : Siapa itu ? siapa yang berani menentangku ?
Pak Turonggo      : Aku tidak berniat menentangmu. Aku hanya tidak ingin kau bersikap kasar terhadap anakmu
R.M Jaladri         : Dia putraku (menyahut)…hey, tunggu sebentar. (mengingat-ingat begitu pula pak Turonggo) sepertinya wajahmu tidak asing bagiku
Pak turonggo       : Ya, aku pun begitu. Ma’af anda seperti teman karibku. Mirip…mirip sekali. Tapi ah tidak mungkin. Dia tidak seberuntung anda. Dia hanya penjual tempe, itupun belajar dariku. Selain itu, namanya bukan R.M Jaladri, dia juga bukan ningrat. Namanya mm… Jaelani….ya Jaelani. Oh ma’af, saya terlalu lancang
R.M Jaladri         : Engkaukah itu Turonggo sahabatku yang jatuh ke jurang
Pak Turonggo      : Lho (heran)
R.M Jaladri         : Engkau juga mirip sahabatku, Turonggo. Ah, dia punya tanda di dahi kirinya, tompel yang besar.
Pak Turonggo      : Lho
R.M Jaladri         : Lha lho lha lho… bukalah ikat kepalamu
Pak Turonggo      : Aku memang punya tanda itu tapi…baiklah (berusaha membuka dengan tangan buntung. Action. Ivon lalu membantunya)
R.M Jaladri         ; OH…Turonggo. Kau benar-benar Turonggo sahabatku. Ingatkah kau padaku, iya ini aku Jaelani, penjual tempe itu (semua aktor mencibir)
Pak turonggo       : A…ha…ha… (berpelukan) bagaimana kau bisa jadi ningrat Jay ?
R.M Jaladri         : Istriku yang ningrat. Dia dulu juga kecantol sama aku gara-gara tempe. Terima kasih sudah memberikan ilmu ketempean
Pak Turonggo      : (Tersenyum)
r.m Jaladri           : Jadi perempuan itu anakmu ?
Pak Turonggo      : Benar
R.M Jaladri         : Ya sudah. Tidak usah berpikir lagi, kita nikahkan saja.
Istri                      : Pak (istri tidak rela)
R.M Jaladri         : Tidak apa-apa bu, kalau anak kita menikah sama anaknya mas Turonggo. Si Cemplon itu… (terpotong)
Semua (selain istri)      : Ivon pak…
R.M Jaladri         : Ya si Ivon itu. Kan masternya tempe. Kumpul semua. Kita bisa kembangkan usaha itu bu. Hasilnya kan bisa buat jalan-jalan ke Hollywood sekalian pemasaran. Betul tidak
Semua (selain istri)      : Betul
R.M Jaladri         : Setuju ?
Semua (selain istri)      : Setuju (istri: ya sydah, saya ikut setuju saja)
R.M Sahid& Ivon       : Terima kasih, pak (dst)
Semua aktor        : ( Semua terharu, lampu padam)

Rampung
 
Dengan Para Pemain :
R.m Jaladri diperankan oleh…………………..
Istri diperankan oleh…………………………
R.m Sahid diperankan oleh……………………
Parti diperankan oleh………………………...
Suto diperankan oleh…………………………
Ivon diperankan oleh………………………....
Pak Turonggo diperankan oleh…………… …..

Dengan Sutradara :…………………………..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar