Karya : Sazhmyta Wulandari
(Cerita Ini Hanyalah Fiktif Belaka,
Apabila Ada Kesamaan Kejadian, Nama Dan Tempat
Itu Hanya Kebetulan Belaka)
Babak Pertama
Adegan1 : Sebuah
ruang keluarga dari keturunan ningrat atas nama R.M Jaladri. Beliau sedang
membaca koran, terhidang kopi dan camilan, istrinya menemani, menyulam sebuah
sapu tangan.
R.M Jaladri : Bu, bapak
dengar anak kita semata wayang, R.M Sahid, kecantol sama gadis desa diujung sana. Bagaimana
ceritanya, bu anakmu kok bisa begitu.
Istri :
(masih terus menyulam) Ibu ya ndak tahu to, pak.
Rm. Jaladri : Lho, piye
tho ibu ini, wong tiap hari di rumah kok bilang nggak tahu. Harusnya ya tau,
anak itu jangan di diamkan saja, tapi ditanyai ini itu.biar kita tahu
perkembangan mental dan pikirannya. Ngurus anak satu saja ndak bisa kok mau
nambah (berhenti membaca koran, minum kopi, baca koran lagi)
Istri : (Ngambek,
berhenti menyulam) Bapak ini bisanya Cuma menyalahkan terus. Yang namanya istri
apalagi ibu, dimana-mana ya sibuk. Masak, nyuci, setrika, bersih-bersih
rumah….(pembicaraannya terpotong)
R.M Jaladri : Alaah,
itukan alasan ibu saja. Kita ini kan
punya si Parti. Kalau semua urusan ibu yang kerjakan, lalu apa kerjaan si Parti
?
Istri : Tuh
(menunjuk dengan mata kesudut ruangan sebab tangannya kembali menyulam)
R.M Jaladri : (Menengok lalu
kembali duduk sembari geleng-geleng kepala) aku kok jadi bingung sendiri sih,
ibu yang terlalu baik atau Parti yang kebangeten. (diam sejenak) Parti… Parti…
(memanggil)
Parti : (Tidak
menyahut, masih asyik dengan tukang kebun)
R.M Jaladri : Parti !!!
Adegan 2
Parti : (Parti
masuk, lari tergopoh-gopoh, gugup) i…iya, ndoro. Saya parti ((tukang kebun
keluar, kesal)
R.M Jaladri : Siapa bilang
kamu kristin hakim ! (parti tertunduk) dari mana saja kamu, dari tadi di
panggil nggak datang-datang. Masak? (nada menyindir)
Parti : Ndak,
ndoro (gugup)
R.M Jaladri : Lantas ?
Parti : Anu ndoro,
saya…saya dari mojok (polos & lugu)
R.M Jaladri : Mojok ?
keadaan genting seperti ini, kamu masih bisa mojok ? aduh aduh Parti…Parti….aduuh…(mengelus
dada, istri berada di belakang R.M Jaladri memijat pundak)
Istri : Sabar,
pak (memijat terus)
Parti : Lho,
ada apa tho ini? Saya ndak ngerti, ndoro. Suer ! (mengangkat dua jarinya)
R.M Jaladri : (Sudah agak
tenang) parti…
Parti : Saya,
ndoro
R.M Jaladri : Apa kamu
saya sekali ndak tau tentang hubungan
anakku, R.M Sahid, dengan gadis desa itu ?
Parti : (Senang)
oh, kalau tentang itu saya sudah taudari dulu, ndoro. Lha wong… saya yang jadi
mak jomblangnya (bangga)
R.M Jaladri & istri : (Kaget)
apa ?! (saling berpandangan, geleng-geleng kepala)
Parti : Iya,
ndoro. Saya yang jadi mak comblangnya, neng parti (sambil menepuk dadanya)
hehe, untung R.M Sahid tidak kecantol sama saya (genit)
Istri : Huu
jangan kecentilan kamu, parti ( duduk dan menyulam lagi)
Parti : Lho,
apa ndoro ini ndak sadar ? witing trisno jalaran soko kulino
R.M Jaladri : Ah sudah-sudah.
Kok malah ribut sendiri. Parti
Parti : Saya,
ndoro
R.M Jaladri : Ceritanya bagaimana,
kok bisa kamu jadi mak comblang mereka ? oh, siapa nama gadis desa itu, Parti ?
PARTI : Ng…
namanya Ivon, ndoro
R.M Jaladri& Istri : Hah,
Ivon ? (saling memandang)
Istri : (Menggerutu,
masih menyulam) kok ada wong ndeso nama Ivon to ti, Parti.
Parti : Iya,
ndoro. Itu nama gaulnya, ivon. Sedangkan nama aslinya ehm… Ponirah
R.M Jaladri : Ponirah ?
yang dulu terpidana itu ?
Parti : Bukan,
ndoro (nada tinggi, membela). Yang ini…ponirah terpikat cinta.
Istri : Hush,
ora sembrono, parti
Poarti : Maaf,
ndoro
R.M Jaladri : Trus…lanjutkan
ceritamu tadi
Parti : (Mengangguk).
Meskipun Ivon itu gadis desa tapi wajahnya cantik sekali, begitu juga hatinya.
Sebenarnya dia cerdas ndoro, tapi dia tidak sekolah. Maklum, pak Turonggo,
bapaknya Ivon. Orang miskin… cacat lagi, tapi hatinya baik. Mereka tinggal berdua
di gubuk sebab istrinya pak Turonggo sudah lama meninggal
R.M Jaladri : Turonggo ?
(seperti terkenang pada seseorang). Seperti nama sahabatku saat muda dulu, malang benar nasibnya.
Dia terjatuh dalam jurang saat kami mengadakan pendakian. Tidak diketahui
rimbanya. Mungkin sekarang dia telah tiada atau ah entahlah. Teruskan saja
ceritamu
Parti : Pak
Turonggo lebih sering di rumah, tirakat. Sedangkan ivon berjualan tempe goreng untuk
menyambung hidup mereka. Nah, gara-gara tempe
goreng itulah yang membuat R.M Sahid jatuh cinta, ndoro
R.M Jaladri : Aduh aduh…anakkku
jajanan tempe,
Bu
Istri : Iya
pak, apa steak yang ibu hidangkan selama ini kurang enak ?
R.M Jaladri : Enak…enak
kok, bu. Bapak suka steak itu. Steak apa namanya, bu ?
Istri : Steak
tempe (malu)
R.M Jaladri : Alaah (berdiri)
ya itu, gara-gara ibu buat steak tempe itu,
anakku R.M Sahid jadi tau rasanya tempe.
Sudah… parti, kau panggil R.M Sahid, suruh dia pulang. Aku ingin bicara
dengannya
Parti : Baik,
ndoro (parti keluar, lampu mati, ganti setting)
Babak kedua
Adegan 1 : Sebuah
gazebo tanpa atap, suara air sungai dan burung. Dilatar rumah.
R.M Sahid : Dek Ivon
(merayu) makin hari, tempe
goreng bikinan dek Ivon tambah uenak.
Ivon : Mm…
mas raden eh raden mas suka tempe
buatan saya ?
R.M Sahid : Ya jelas
apalagi kalau pas hangat. Hihi… tambah uenak dek
Ivon :
(tersipu)
R.M Sahid : (Meniup seruling
sebentar) sepertinya orang tuaku sudah tau hubungan kita (tukar pikiran)
Adegan 2 : (Tukang
kebun masuk, menggerutu karena kencannya dengan si Parti digangguoleh R.M
Jaladri)
Ivon : Lalu,
bagaimana mas raden ?
Tukang kebun : Ah, untung
raden disini (mendekati R.M Sahid dan Ivon)
R.M Sahid : Ada apa, Suto ? ada kabar apa?
Tukang kebun : Saya juga
tidak tau, raden. Tapi sepertinya, ndoro Jaladri sedang panik. Sampai-sampai
kencan saya terganggu sama neng Parti (menggerutu)
R.M Sahid : Ada apa ya ? mungkinkah mereka sudah mengetahui hubunganku
dengan Ivon?
Ivon : Mungkin
mereka ndak suka mas raden bergaul dengan saya
R.M sahid : Kenapa kamu
berpikiran seperti itu Ivon ?
Ivon : Wajar
kalau saya mempunyai kesi,pulan sepertiitu. Saya kan anak orang miskin, tidak punya derajat
apalagi martabat. Berjuala tempe
laku saja sudah untung
R.M Sahid : Ivon…
(pembicaraan terpotong)
Adegan 3 : (Pak Turonggo
masuk. Tangan keduanya patah tinggal sesiku, menghampiri mereka seraya berkata)
Pak Turonggo : Benar yang dikatakan
anakku, raden, kami memang orang, kami tidak punya apa-apa yang patut
dibangakan. Kami tidak setara dengan raden. Ingat raden, loyang tidak seimbang
dibanding dengan emas
R.M Sahid : Tapi hati
kalian baik, tulus. Saya saja betah tinggal disini. Ya, dek ?
Ivon :
(tersipu)
Pak Turonggo : Saya tidak
melarang raden bergaul dengan anak saya. Tapi kalau memang orang tua raden
tidak menghendakinya, sebaiknya raden mengalah. Biar bagaimanapun, kami
menyadari siapa kami dan siapa raden
Adegan4 : (Parti
masuk, lari tegopoh-gopoh)
Parti : Raden…raden…(mengatur
napas) untung raden disini
R.M Sahid& Ivon : (Beranjak
dari duduknya) ada apa Parti ?
Parti : (Beralih
ke Suto) eh, kang Suto (sok mesra, berdua)
R.M Sahid :(Mengingatkan)
Parti : eh, maaf
raden. Anu, raden disuruh pulang sama ndoro Jaladri. Katanya ada yang mau
dibicarakan dengan raden. Penting
Semua : (Saling memandang
satu sama lain)
R.M Sahid : (Mendekati
Parti) apa Parti tau, kira-kira belaiau ingin berbicara tentang apa ?
Parti : (Mengangguk)
R.M Sahid : Tentang apa,
Parti ? ayo ngomong
Parti : Mm…
tentang …hubungan raden dengan (menunjuk Ivon)
Pak turonggo : Benar dugaanmu,
raden. Ndoro Jaladri sudah tau hubungan kalin. Lantas, sekarang bagaimana ?
R.M Sahid : (Bingung)
ah, sudah semestinya bapak dan ibu tau hubungan saya dengan Ivon. Saya akan
pulang. Kalau perlu, saya akan meminta bapak untuk melamarkan Ivon untuk saya,
hari ini juga
Parti& Suto :Oh…(genit,
pura-pura terharu)
Ivon : Bagaimana
kalau orang tua mas raden tidak setuju ? (khawatir)
Parti& Suto : Iya (mengangguk-angguk)
R.M Sahid : Aku sudah
menjatuhkan pilihan denganmu, Ivon. Aku mencintaimu.berbekal keyakinan yang
tulus, aku percaya akan kata hatiku. Ayo, kau kubawa serta mengharap kepastian
Ivon : Tapi mas
raden… (melihat bapaknya)
Pak turonggo : (Menghampiri
kedua anak itu, R.M Sahid dan Ivon) kalau kalian memang saling mencintai dan
yakin atas perasaan kalian, pergilah. Jangan jadikan keraguan sebagai
penghalang. Bapak akan menyusul perjalanan kalian
R.M Sahid&Ivon : (Berlutut
memohon restu) do’akan kami, pak !
Pak Turonggo : Ya…ya…berangkatlah
anak-anakku (R.M Sahid & Ivon keluar, Parti & Suto mengiring
dibelakangnya, lampu mati, sound)
Babak ketiga
Adegan 1 : Ruang keluarga
(seperti babak pertama)
R.M Jaladri : (Mondar-mandir)
Istri : (Menyulam,
sesekali memperhatikan R.M Jaladri) ada apa to, pak ? dari tadi kok
mondar-mandir kayak wong bingung
R.M Jal;adri : Wong bingung
? (duduk menghampiri) aku ini emanag lagi bingung, heran plus nggak percaya
dengan apa yang menimpa anak kita. Kita ini ningrat lho bu, eling ! mosok anak
kita jatuh cinta Cuma gara-gara tempe.
Memang kita ndak biasa makan daging apa ?
Istri : Sabar
pak, jangan marah-marah gitu toh. R.M Sahid kan masih muda, anak kita itu lagi dalam
masa puber
R.M Jaladri : Puber apa,
wong dia sudah berumur kok
Istri : Nah
apalagi sudah berumur. Wajarka kalau ingin punya pendamping. Lagian, ibu juga
sudah kepingin nimang cucu. Habis, minta anak lagi nggak dikasih sih sama bapak
R.M Jaladri : Kalau masalah
cucu, bapak juga kepingin punya cucu. Tapi kenapa harus dengan bakul tempe ? aku ndak mau
anakku besar karena tempe apalagi punya mental,
mental tempe
Istri : Alaah,
bapak dulu juga makan tempe, sekarang juga makan
tempe.
Nyatanya, steak tempe
itu bapak habiskan
R.M Jaladri : Lho…itu
lain, bu (berusaha membela diri)
Istri : Lain
apanya ? toh sama-sama tempe
(ngotot)
R.M Jaladri : Tapi bapak
kan ningrat,
bu (sok sombong)
Istri : (Mengejek)
apalagi ningrat. Ningrat kok mangan tempe
R.M Jaladri : Lho, ibu
kok jadi belain gadis itu. Siapa namanya aa…Nipon…eh…Klepon…eh bukan…siapa bu ?
Istri : Imron
eh Imron… Ivon. Iya pak, Ivon. Ibu jadi penasaran sama gadis itu.
Jangan-jangan, Cuma ingin harta kita saja. Cewek matre gitu loh
R.M Jaladri : Ya, bapak
juga curiga dia punya niat seperti itu (berpikir sejenak) ah, tidak.
Astaghfirullahal adziim… istighfar bu
Istri : (Bingung)
ada apa to, pak ?
R.M Jaladri : Kita sudah
su’udzon sama orang, bu. Ningrat ya ningrat tapi akhlak kita jangan ningratan,
bu. Istighfar (menyesal)
Istri : Astaghfirullahal
adziim. Iya pak, kita sudah suudzon. Ampuni kami Gusti, ampuni kami
R.M Jaladri : (Menutup muka)
Adegan 2 : R.M
Sahid & Ivon masuk, diiringi musik + Parti & Suto)
R.M Sahid : Ehem (pura-pura
batuk)
R.M Jaladri : (Bersikap sepeti
biasa, menjaga wibawa, bangun dari duduknya dan kacak pinggang) dari mana,
anakku ?
R.M Sahid : Ananda dari
tempat Ivon. Perkenalkan, ini Ivon, kekasih ananda.
R.M Jaladri : (Mengamati
Ivon) oh, jadi ini gadis yang membuatmu jadi suka makan tempe
Istri : Sudahlah,
pak jangan ngomongin tempe
terus. Ibu juga tersinggung. Bapak apalagi, meskipun dibuat steak tetap saja
dari tempe
R.M Jaladri : (Mengangguk-angguk,
setuju) anakku, sadarkah engkau akan perbuatanmu ? sadarkah siapa perempuan
disampingmu ?
R.M Sahid : Ananda sadar
sepenuhnya. Ananda mencintainya, tulus. Ananda ingin bapak melamarkannya untuk
saya
R.M Jaladri : Apa ?
lancang kamu, Sahid. (bersikap menampar)
Seluruh aktor : (Bingung,
membela R.M Sahid)
Adegan 3 : (Pak turonggo
masuk, musik)
Pak turonggo : Tunggu (
agak diluar, belum jelas benar. Perlahan masuk dengan dialog)
R.M Jaladri : Siapa itu
? siapa yang berani menentangku ?
Pak Turonggo : Aku tidak
berniat menentangmu. Aku hanya tidak ingin kau bersikap kasar terhadap anakmu
R.M Jaladri : Dia putraku
(menyahut)…hey, tunggu sebentar. (mengingat-ingat begitu pula pak Turonggo)
sepertinya wajahmu tidak asing bagiku
Pak turonggo : Ya, aku pun
begitu. Ma’af anda seperti teman karibku. Mirip…mirip sekali. Tapi ah tidak
mungkin. Dia tidak seberuntung anda. Dia hanya penjual tempe, itupun belajar dariku. Selain itu,
namanya bukan R.M Jaladri, dia juga bukan ningrat. Namanya mm… Jaelani….ya Jaelani.
Oh ma’af, saya terlalu lancang
R.M Jaladri : Engkaukah itu
Turonggo sahabatku yang jatuh ke jurang
Pak Turonggo : Lho (heran)
R.M Jaladri : Engkau juga
mirip sahabatku, Turonggo. Ah, dia punya tanda di dahi kirinya, tompel yang
besar.
Pak Turonggo : Lho
R.M Jaladri : Lha lho
lha lho… bukalah ikat kepalamu
Pak Turonggo : Aku memang
punya tanda itu tapi…baiklah (berusaha membuka dengan tangan buntung. Action.
Ivon lalu membantunya)
R.M Jaladri ;
OH…Turonggo. Kau benar-benar Turonggo sahabatku. Ingatkah kau padaku, iya ini
aku Jaelani, penjual tempe
itu (semua aktor mencibir)
Pak turonggo : A…ha…ha…
(berpelukan) bagaimana kau bisa jadi ningrat Jay ?
R.M Jaladri : Istriku yang
ningrat. Dia dulu juga kecantol sama aku gara-gara tempe. Terima kasih sudah memberikan ilmu
ketempean
Pak Turonggo : (Tersenyum)
r.m Jaladri : Jadi perempuan
itu anakmu ?
Pak Turonggo : Benar
R.M Jaladri : Ya sudah. Tidak
usah berpikir lagi, kita nikahkan saja.
Istri : Pak
(istri tidak rela)
R.M Jaladri : Tidak apa-apa
bu, kalau anak kita menikah sama anaknya mas Turonggo. Si Cemplon itu…
(terpotong)
Semua (selain istri) : Ivon
pak…
R.M Jaladri : Ya si Ivon
itu. Kan masternya tempe. Kumpul semua. Kita bisa kembangkan
usaha itu bu. Hasilnya kan bisa buat
jalan-jalan ke Hollywood sekalian pemasaran.
Betul tidak
Semua (selain istri) : Betul
R.M Jaladri : Setuju ?
Semua (selain istri) : Setuju
(istri: ya sydah, saya ikut setuju saja)
R.M Sahid& Ivon : Terima
kasih, pak (dst)
Semua aktor : ( Semua terharu,
lampu padam)
Rampung
Dengan Para
Pemain :
R.m Jaladri diperankan oleh…………………..
Istri diperankan oleh…………………………
R.m Sahid diperankan oleh……………………
Parti diperankan oleh………………………...
Suto diperankan oleh…………………………
Ivon diperankan oleh………………………....
Pak Turonggo diperankan oleh…………… …..
Dengan Sutradara :…………………………..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar