Karya : Masudi DEC
A. Suasana Pasar Yang Riuh Rendah Menyedot Perhatian
Sebentar kemudian tiga pasukan kerajaan hendak menyampaikan woro-woro
Pas. 1 :
(memukul kentongan ) Perhatian-perhatian, woro-woro!
Ayo kumpul semua !. ada wor-woro penting
sangking kerajaan Demak Bintoro.
Suasana pasar antusias membentuk konfigurasi simetris. Mereka serentak
membentuk barisan sambil ritmis bernyanyi. (Panjang kumpulnya, panjang kumpulnya, panjang kumpulnya serta mulia,
serta mulia, serta mulia ! 3X.
(Seorang
pedagang nyeletok )
Ped. 1 :
ngacung ! saya ngacung, tuan pasukan. Ke-NGACUNGAN saya, sungguh serius pingin
bertanya. Siapa sesungguhnya yang paling berbahagia enjang puniko. Lha wong
ulang tahun saja, kok dirayakan dipasar. Apalagi kerajaan begini. Wah ini betul
–betul peristiwa langkah, aneh. Pasti orangnya bukan orang sembarangan, minimal
dia keturunan darah biru. Atau paling tidak aatu TRAP dibawah darah biru.
Koor :
Satu trap darah biru. Darah apa pula itu
Nem?
Ped 1 :
Darah Hijau !
Koor :
Orak ono kok ijo !
Ped :
Yo wiss darah abu-abu
Koor :
Aah, itu cikal bakal seragam SMA
Ped 1 :
Atau darah lorng – loreng ?
Koor :
Aah itu cikal bakal seragam tentara.
Ped 1 : kalau biru tua bagaimana ?
Koor :
itu juga cikal bakal seragam SMP
Ped 1 :
Yo wis bagaimana kalau merah?
Koor :
Itu kan cikal bakal seragam SD.
Ped 1 :
Habis darah apa ? Darah kok jadi warna warni sikh (jeda pusing)
Lagu :
Ngisore darah biru 3X sekarang, sekarang darah apa, darah apa sekarang
Tapi pasar malah asyik
sendiri dengan konfigurasi kereta api yang berbunyi : Tuiiit, wong edan, wong edan, wong edan,…..
Ped 1 :
Ojo ngedan, ngedanno aku. Mengko nek kuwalat, sirahmu, iso nek ngisor koyo
jambu mete, aku iki lagi mumet mikir trap, trap, trap. Darah. Jangan – jangan
darah tersebut adalah darah hitam , ya Darah Hitam.
Koor :
Itukan darah mak lampir. Hi takut ………..
Para
pedagang segera bersembunyi. Tiga pasukan masih berdiri. Ped 1 jugamasih
ditempat.
Ped 1 :
yees, Yees Lidah dan omonganku masih sakti mandra guna.
Satu getaran saja mampu membuat orang
gentayangan ora karuan.
Celoteh- celoteh terdengar dari para pedagang.
Celoteh : oo,
dasar para provokator !
Celoteh :
Tukang ngobong atine wong ! Nek wis kobong mbulat – mbulat Di tinggal minggat.
Ayu Mu Opo ! Pikir dong !.
Celoteh :Kalau
terjadi kebakaran, rumangsamu jaman kerajaan ada pemadam kebakaran, sak enak’e
dewe ! dasar wong wedok seng udele bodong.
Celoteh :
Tutuk – tutukno olehmu nakal ngger. Nanti kalau sudah mangkel ketikel – tikel,
akan aku siarkan kepada semua joko dan dudo diseluruh pelosok kerajaan. “wahai
para joko dan para dudo. Dilarang keras RABI dan DIRABENI oleh Poinem. TIDAK
BOLEH KAWIN SAMA Poinem. Beres kan ?
Celoteh :
Orang masa kecilnya tidak pernah ikut PORSENI SD yo koyo ngono kuwi, pawa’ani
nggrathil !
Ped 1 :
Poro sederek. Sabar. Sabar. Sabar. Kalian tidak perlu ngelek – ngelek orang.
Sekarang cobalah, ngelek ngelek’o kelekmu dewe !
(Mencium kelek masing – masing )
Koor :
Hi…………Kuecut.
Ped 1 :
untuk itu saudaraku yang kecut – kecut yang mambu kelek, semua ribut – ribut
tadi Cuma sekedar kelakar. Omong kosong para bakul ketimbang ngantuk. Sedangkan
omomongan yang berisi adalah ( Mofing kepasukan )
Selamat ulang tahun tuan
pasukan selamat ulang tahun (bersalaman) panjang umurnya, panjang
umurnya serta mulia, serta mulia, serta mulia.
Celoteh :
oh …keminter, sok tahu sih kamu, kita tak pernah nyanyi lagu itu, lagu itu ora
pas babar pisan dengan suasana kerajaan.
Celoteh : kita tadi nyanyi lagu begini
lho (memberi aba-aba), panjang kumpulnya, panjang kumpulnya serta
mulia, serta mulia, serta mulia.
Suasana bertambah riuh
PAS 1 : (memukul
kentongan) he … kenapa kalian bertamabah ribut. Tutup mulut kalian,
tutup ! denganrkan ya, tidak ada yang ulang tahunan pagi ini, baginda rajapun tidak sedang ulang tahun, jadi
jangan gawe perkoro.
Pas 3 :
kami dating kesini mau menyampaikan woro-woro, dari baginda raja, untuk itu,
siapkan pensengaran kaian. Para rakyat pasang telinga grak…!
(
rakyat berbaris dengan pasang telinga kiri yang nyentrik)
Penyampaian woro- woro akan dikumandangkan oleh
departemen penyampaian woro- woro kerajaan Demak Bintoro.
Pas 2 :
Assalamu’alaikum Wr. Wb. Woro-woro ( backing vokal rakyat: wor…wor….)
Pembukaan bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu
ialah hak segala bangsa, oleh sebab itu maka penjajahan diatas dunia harus
dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemenusiaan dan peri keadilan.
Pas 1 :(
memukul kentongan) hai, bukan itu isi woro-woronya. Wah, kamu kok
tegang sekali sih, pentas didepan anak-anak SD. Opo ono murid ayu seng mbok
taksir. Ayo dibaca lagi. Kali ini harus benar.
Pas 3 :
Para rakyat pasang telinga grak…! (respon aba-aba)
Pas2 : Woro-woro (koor : rooo…roo…) baginda
kerajaan Demak Bintoro, membutuhkan juru gambar berbakat, berdisiplin tinggi,
terhadap dunia seni kreatif, energik, serta berwawasan seni yang memadai. Untuk
itu bagi para penduduk yang berminat dapat mendaftarkan diri secara gratis,
kepada Diah Endang Umi, asisten sekretaris kerajaan pada jam kerja. Lomba lukis
ini akan digelar di alun-alun Demak, besok pada hari Rabu Legi jam wolu enjang
demikian isi woro-woro, wassalam.
Rakyat serempak pingin bisa melukis. Ada yang bilang, kang patelotku
balekno aku butuh latian gambar pitung dino pitung bengi. Dll.
B. Suasana lomba. Lagu : Rebo
telah tiba hatiku gembira……..3X 9rakyat sibuk melukis )
Pengumuman waktu tinggal tiga belas menit
lagi………
Rakyat mengumpulakan gambar kepaniitia, yang paling telat
mengumpulkan adalah juru gambar yang paling panjang rambutnyua, kerempeng,
nyentrik. Dialah kijoko Sungging.
Pengumuman : setelah diadakan seleksi ketat, sampai sikut
sikutan mutahake wedange dewan juri, memutuskan bahwa, juara gambar adalah ki
Joko Sungging Badar duwung……..
C. Suasana gempar.
Hidup Joko Sungging…..hidup Joko Sungging…….Joko Sungging enak tenan.
Lagu : Ki Joko , Ki
Joko kae di awe, maju ngadepo rojo, rungok noho ngendikane opo 3X
Joko memberikan penghormatan, rakya ikut menghormat.
Raja :
Ki Joko Sungging, sungguh kerajaan merasa berbangga sekaligus terpikat,
tersayang, tersanjung 6, memiliki juru gambar sepertimu.
Joko : terima kasih, baginda.
Raja : untuk itu
tanpa tedeng aling- aling, aku menginginkan Ki Joko bersedia menggambar istriku
alias permaisuriku tanpa melihat bentuk aslinya.
Joko : maksud baginda, hamba
harus pakai imajinasi tanpa pernaha melihat l angsung
kecantikan permaisuri baginda. Begitu ?
Raja : tepat. Pinter. Seratus buat engkau Ki
Joko. Aku rasa Ki Joko paham isi perintahku. Nah, Ki Joko mulailah dari
sekarang melakukan tugas menggambar dari kerajaan.
Joko :terimaksih baginda.
Raja , pengawal, dan rakyat berduyun – duyun
meninggalkan. Joko Sungging mulai asyik berkutat dengan lukisannya
D. pada saat lukisan sudah selesai.
Joko :
aku rasa lukisan permaisuri itu sudah sempurna. Tapi aku jadi bertanya-tanya
sendiri dalam hati. Benarhkah permaisuri mempunyai tai lalat didekat vaginanya.
Ah … yang penting tugas sudah saya selesaikan tepat waktu. Sebaiknya
segera saya serahkan lukisan ini kepada
raja ( lalu pergi)
E. suasana
kerajaan
raja dan pengawal memasuki ruangan. Patih
kerajaan terlihat membawa bingkai lukisan Ki Joko.
Patih : hormat, baginda. Hamba akan akan
menyerahkan hasil ujian EBTANAS.
Raja : ( kaget) hasil
ujian EBTANAS ? … ujian EBTANAS yang mana patihku.
Patih : rajaku. Ini hasil ujian
bidang menggambar dari juru gambar istana. Itulho Joko . Joko Itu Lho…masak rajaku lupa.
Raja : joko ……. Joko….! Maha patih, bukan
juru gambar kerajaan sudah tidak joko semua. Alias mereka sudah berumah tangga
semua ?
Patih : ah .., baginda ini bagaimana kok bisa
jadi pelupa. Ampun baginda. Baginda jangan memikirkan wayoh melulu terus
menerus memikirkan selir baru.buekankah baginda telah memberikan tugas
menggambar permaisuri baginda kepada Ki Joko.
Raja :
oo….iya ya..aku tak pernah lupa itu. Tak pernah lupa. Kalau aku sedikit sulit menyambung
percakapan barang kali aku ini terlalu kakehan ilmu, ya..ya…ya….
Ki
Joko Sungging Badar Duwung, mana ? mana hasil lukisan itu patihku ?
Patih : ini rajaku
Raja :
(tersenyum puas ) sempurna. sempurna sekali . luar biasa ki Joko
Sungging itu. Oh..permaisuriku memang cantik sekali, patihku suruh semua
pengawal dan engkau juga merem semua. MEREM. Aku sungguh ingin mencium lukisan
ini.
Patih : siap baginda. Poro rawuh merem grak !
(Lantas raja bertubi – tubi menciumi lukisan, tapi
tiba-tiba).
Raja :
bedebah ! kurang ajar benar Ki Joko, kerajaan telah kemalingan. Kita kebobolan
maling. Kehormatan kerajaan telah dikocar-kacirkan Ki Joko.
Maha Patih, suruh semua pasukan terbaik kerajaan
menangkap Ki Joko. Tangkap Ki Joko Sungging, tangkap !
Patih : sekarang baginda?
Raja :
ya, sekarang , tunggu apalagi, aku perintahkan tangkap Ki Joko Sungging,
tangkap, tangkap hidup-hidup.
Patih :
maaf baginda, tapi kami tak bisa melihat apa-apa, apa kami sekarang sudah boleh
melek ?
Raja :
goblok ! tolol semua ! siapa suruh kalian merem terus. Melek’o, melek !,
tangkap Joko Sungging !
(Patih dan semua pengawal membuka mata)
Pengawal : Hi……..ketok !
Pengawal :
Hi……..ketok !
Pengawal :
Hi……..ketok !
Patih : dan. Koor: Hore … ….(kofigurasi
perang)
(Kini
tinggal Raja dan Patih)
Raja : lukisan Joko Sungging ini memang
mewirang-wirangake aku.Bagaimana tidak.
(Patih
mengambil lukisan itu dan menatapnya).
Raja :
Lihatlah tiga menit saja. Bagaimana Joko Sungging bisa detail melukis
lekuk-lekuk tubuh permaisuriku. Sampai tahi lalat di dekat vagina pun dia tahu.
Patih :
Ini …sekarang kami sudah bisa melihat sendiri.
Raja :
Lha kok malah pada guyon. Semprul! Semprul golong ndoletak doletik mecaho ndoke
siji. Tor! He aku bilang tangkap joko sungging. Tangkap.
Koor Pengawal;
Oke….oke….oke pasti ada penyusupan yang tidak benar. Tak bermoral. Melanggar
PPKN dengan permaisuriku, terus terang aku muring-muring sampai darahku
mendidih. Aku budrek. Aku budrek yang hebat patih !
Patih :
kalau begitu aku akan siapkan hukuman yang sesuai dengan dosa dan kesalahan
Joko Sungging.
Raja :
Ya, siapkanlah. Buatlah layang-layang raksasa, lalu ikat Joko Sungging pada
layang-layang itu. Hua…ha…ha…biar Joko Sungging gentayangan di udara seperti
supermen yang bolong elare. Atau seperti betmen yang sayapnya terikat tali
raffia begitu erat. Jatuh di mana, biarlah angin yang menentukan!.
Patih :
baik, Baginda. Sekarang silahkan baginda dahar dulu, jangan tertlalu berfikir
keras hingga lupa makan, nanti baginda bisa panuan. Mari baginda, saya
hantarkan untuk dahar. Apa perlu baginda tak dulang?
Raja :
Omonganmu kok ora penak babar blas, ora kepenak dirungokno kuping to patih,
begini saja aku mau dahar bersamamu tapi ijinkan aku setengah jam wae njewer
kupingmu !
(Patih di
jewer sampai hilang dari panggung).
F. Semua pengawal masuk, layang-layag raksasa
di siapkan. joko sungging di giring masuk. lengkap dengan peralatannya, lalu ia
di ikat di layangan, raja menyusul.
Pengawal : Baginda, Joko Sungging telah siap di
terbangkan.
Raja : Joko sungging.!
Joko :
Hamba baginda.
Raja :
Kali ini ada tugas melukis lagi dari kerajaan, ini di sebut sebagai misi
melukis dari udara. Gambarlah apa-apa yang ada di kerajaan dari udara. Engkau
akan naik-naik ke puncak udara , tinggi-tinggi sekali.
Joko :
Hamba siap baginda.
Raja :
Baik, pengawal, silahkan junjung layang-layang ini, pengawal yang lain silahkan
ulur talinya, aku sendiri yang memberi aba-aba. Uluur…uluur…uluur… tariik…..
Maka joko sungging pun terbang. Rakyat-rakyat
desa melihat Joko Sungging dari tiga kelompok tempat, yakni : Mulyo harjo
Jepara, Bali, dan Cina. Rakyat mengelu-elukan. Ono Joko Sungging, ono Joko
Sungging mabur, berulang-ulang.
Raja :Potong
tali itu, potong sekarang.
Tali
layang-layang itu pun di putus oleh pengawal. Tali terpotong membentuk sederet
bukit.
Rakyat :
Bukit pohon jati itu indah sekali
Rakyat : Itu
pasti jati serat, ya jati serat.
Pahat joko sungging jatuh di perkampungan mulyoharjo Jepara
Singo Wiryo : Nama saya Singo Wiryo, saya yang menemukan tatah dari Joko
Sungging. Dari sini saya yakin penduduk Mulyo Harjo Jepara kelak akan pinter
mengukir (adegan orang mengukir)
Sementara
Ganden Ki Joko Sungging jatuh di pulau Bali.
Rakyat : Aha, aku menemukan ganden Ki Joko Sungging, orang-orang Bali
pasti kelak canggih dalam membuat patung.(adegan orang membikin patung)
Sedang
tinta Joko Sungging jatuh di negeri Cina.
Joko : Ohoe…, rakyat Cina, bolehkah aku mendarat di negerimu ,
aku sudah kelelahan terbang dan di terbangkan angin.
Rakyat Cina : Silahkan tuan
silahkan turun ke tanah kami, kami akan membuat the poci untuk tuan.
Joko
Sungging beramah tamah dengan rakyat Cina. Dan ending dit sampun kesel.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar