Sabtu, 01 Agustus 2015

KEGELAPAN LEK WAR



Penulis: Amin sholikhuddin.
            Diangkat dari sebuah cerpen karya :
            Ahmadun Y Harfanda
            Thn : 1992

SETTING PERTAMA

DIAWALI DARI SEBUAH PEMBACAAN DARI  BELAKANG PANGGUNG
            Semua warga kampung yakin, lelaki bujang berusia 30 thn itu buta. Matanya memang terbuka,tetapi orang yang menatapnya hanya melihat selaput putih, namun lelaki yang biasa dipanggil lek war itu, tak pernah sedikitpun merasa buta.Dalam dirinya hanya ada satu keyakinan bahwa dunia ini memang gelap dan serba hitam, dia amat yakin matanya dapat melihat keserba gelapan dan keserba hitaman itu secara nyata.
            Ia sudah amat sering mendengar cerita ataupun penjelasan dari ayah ibunya saudara-saudara dan tetangganya tentang wajah dunia yang sebenarnya, tentang matahari yang pijar panasnya menyilaukan, tentang pohon-pohon yang berdaun hijau,tentang kulitnya yang coklat kehitam-hitaman, tentang kucingnya yang berkaki empat dan berbulu putih kecoklat-coklatan, dan tentang apa saja disekitarnya.
            Tetapi lek war tak percaya itu semua, ia menganggap semua itu adalah bayangan-bayangan mereka seperti ketika ia membayangkan semua yang ada di sekelilingnya.

LAMPU TERANG MENYINARI PANGGUNG KELUAR MBOK PARTO SAMBIL MEMBAWA SULAK DAN BERSIH-BERSIH, MUNCUL LEK WAR DENGAN PAKAIAN TIDAK SEPERTI BIASANYA DAN MENCARI SESUATU ( KOPYAH ).
Ibu ( mbok parto ) : “Anwar, kamu mau kemana ? “
Lek war       : “ Ke masjid ! “
Ibu               : “ Anwar, kamu harus diantar adikmu,agar tidak kesasar dan tidak nabrak-nabrak .
                         Nduk-nduk !.”
Adik             :” Ya bu  ( adiknya lek war keluar )
Ibu                :”Kamu antar masmu ke masjid ya ?”
Lek war       :”Tidak usah ! aku bisa jalan sendiri.Aku tau dimana masjid itu.Aku bisa jalan sendiri  ke sana.( jawab Anwar yakin )”
Ibu                :” Lho ! kamu ini buta war,kamu belum pernah jalan kesana,banyak parit dan selokan yang kamu lewati,kalau kamu kecemplung selokan bagaimana?”
Adik              :”Iya mas!( merespon ibunya )
Anwar           :”Ibu ini bagaimana to! Kan sudah saya katakan berkali-kali, aku ini tidak buta,aku ini seperti kalian,aku bisa meliht masjid itu,bisa melihat selokan itu,dan bisa melihat semuanya.Sudahlah ibu jangan menghawatirkanku.”
Ibu                :”Kamu ini kok ngeyel to nak!”
Adik             :”Iya,memang ngeyel kok”
Anwar           :”Kamu anak kecil jangan ikut-ikutan.
                        Ibu yang ngeyel,aku ini bisa melihat semuanya,bahkan aku juga tau,kalau kerbau itu warnanya hijau dan ekornya diatas,terus kambing bewarna kuning,ular yang suka makan gajah,pokoknya semua saya tau ( sambil sedikit marah)”
Ibu                :”Terserah kamu war.( ibu menyerah )
 Tapi ! kalau kamu tidak mau diantar,kamu bawa tongkat. ( kemudian ibu mengambil tongkat kesudut lain)”
Anwar          :”Wah apalagi pakai tongkat bu! Aku malu,apa memang aku sudah kakek-kakek, harus pakai tongkat segala,aku kan masih muda,lihat ini aku belum bungkuk, aku masih bisa berdiri tegak dan berjalan tegap ( jawab anwar sambil menegak tegakkan tubuhnya ) Sini tongkatnya,biar saya kempit saja!”
KEMUDIAN ANWAR BERANGKAT KEMASJID TANPA BANTUAN. HANYA TONGKATNYA YANG DIKEMPIT DIBAWAH KETIAK,DAN BERJALAN LURUS SEPERTI SEORANG PEJABAT MILITER.
{lampu meredup setelah keluarnya lek war dari panggung )
KEMUDIAN GANTI SETTING DENGAN LATAR YANG BERBEDA.
SETTING KE DUA
(lampu meredup dan mengarah ketengah panggung )
ADA BEBERAPA PEMUDA DUDUK SAMBIL MEMBAWA GITAR DAN BERNYANYI LAGU ( nasib orang buta ciptaan rhoma irama ) SETELAH SELESAI LAK WAR MUNCUL DARI SUDUT PANGGUNG.
Pemuda 1        :”Lek war.Sore-sore begini mau kemana?”
Pemuda 11    :”Saya tuntun ya! (sambil memegang tangan lek war )
Lek war         :”Apa?di tuntun? Memangnya saya tidak bisa jalan sendiri !memangnyan saya ini buta (jawab lek war agak marah,sambil melepaskan tangannya yang dipegang)
Pemuda 111    :”Banyak selokan lho lek war, nanti kalau kecemplung gimana?”
Lekwar       :”Apa kecemplung selokan!memangnya saya tidak pernah melihat selokan!”
Pmeuda 111    :”Memangnya lek war pernah lihat selokan ya ? selokan itu apa to lek!”
Lek war           :”Rernah saja.selokan itu kan tanah yang banyak rumputnya to ! dan dibuat untuk sepak bola “
Koor               :”Wah lek war ngawur ! selokan itu banyak airnya.”
Lek war           :”Lha iya,maksudku tadi banyak airnya kalau hujan.Tapi kan banyak   rumputnya to.”
Pemuda 11      :”Benar juga lek ! ditepi selokan memang banyak rumputnya,lek war ternyata pinter juga ya.”
Lekwar      :”Memangnya kalian saja yang pinter,sudah sana kalian jangan ngrubung saya terus,malu.”
PEMUDA-PEMUDA SEDIKIT MENJAUHI LEKWAR,KEMUDIAN TERUS BERJALAN.TIDAK SELANG BEGITU LAMA LEK WAR KECEMPLUNG SELOKAN DAN PARAPEMUDA TERTAWA,KEMUDIAN PARA PEMUDA LARI UNTUK MENOLONG LEK WAR

Koor             :”Lha itu yang namanya selokan lek war ( goda mereka )
Lek war         :”Lha iya siapa bilang ini bakwan! Benar kan banyak airnya”
Pemuda 1       :”Kenapa lek war masuk selokan ! kecemplung ya lek?”
Lek war         :”Waaaa….h !kalian ini kok tidak tanggap,saya ini kan sedang mengukur dalamnya selokan ini dengan tongkat,ternyata dalam juga ya?lihat ini tongkat saya basah sampai ke pangkalnya,tubuh saya juga ikut basah.”
Pemuda 111   :”Waaah lek war ini bagaimana to ! sudah jelas-jelas kecemplung kok masih mungkir juga, makanya kalau dituntun jangan menolak.”
Lek war     :”Kalian ini kok tidak percaya to!saya ini tidak kecemplung,tapi memang sengaja nyemplung,untuk menjajaki kedalaman selokan ini.Anak kecil jangn suka ngeyel.”
MEREKA MEMBANTU MEMBERSIHKAN TUBUH LEK WAR SAMBIL MEMASANGKAN SANDAL LEKWAR.
Pemuda 11           :”Pulang saja dulu lek,ganti baju dulu nanti masuk angin lagi!”
KEMUDIAN LEK WAR KEMBALI DAN TETAP BERJALAN LURUS BAK SEORANG MILITER, KEMUDIAN PEMUDA-PEMUDA SADAR LEK WAR DALAM BAHAYA
Koor                    :”Awas leeeee…k “
TAPI MEREKA TERLAMBAT DAN LAK WAR MENABRAK POHON
KEMUDIAN LEK WAR JATUH DAN SERGERA BANGKIT,KEMUDIAN MALAH MEMELUK-MELUK POHON TERSEBUT.KEMUDIAN SAMBIL MENUTUPI JIDATNYA PEMUDA TERTAWA DAN SEGERA MERUBUNGNYA
Pemuda 1      :”Lek war gimana to.jalan kok nabrak-nabrak pohon”
Lek war         :”Nabrak-nabrak pohon dengkulmu,saya hanya mau mengukur pohon ini dengan tangan saya,kalian tidak tau ya,pohon ini dulu yang nanam saya dengan bapak saya. Dulu ketika saya masih kecil saya ingn tau sekarang besarnya sudah seberapa.”
Pemuda 111   :”Sudah lek! Ayo kita antar,nanti jatuh-jatuh lagi.”
KALI INI LEK WAR TIDAK MENOLAK. MEREKA KELUAR BERSAMA DAN DIIRINGIDENGAN NYANYIANLAMPU MEREDUP DAN GANTI SETTING
SETTING KE TIGA
DILANJUTKAN DENGAN BACAAN MONOLOG DARI BELAKANG PANGGUN HINGGA PADA SUATU HARI WARGA SEKAMPUNG GEGER,KARENA TIBA-TIBA LELAKI ITU HILANG DARI PEREDARAN,MULU-MULA MBOK PARTO (KEMUDIAN
LANGSUNG DISAMBUNG DENGAN KELUARNYA MBOK PARTO DALAM KEADAAN PANIK DAN MENCARI-CARI KESELURUH PANGGUNG).
Ibu         :”War ! War ! anu War ! dimana kau nak,dimana kau sayang Anwar…Anwar …. (kemudian ibu keluar dan mengambil kentongan dan menabuhnya keras-keras dengan meminta tolong kepada warga.Kemudian warga keluar.(seluruh pemain))
Orang-orang    :”Ada apa mbok,ada apa?”
Ibu                   :”Anwar      anwar     (gagap)
Orang-orang     :”Iya memangnya kenapa dengan Anwar”
Ibu                    :”Anwar hilang “( Orang-orang terkejut )
Pak RT             :”Mari kita cari lek War!kalian kemasjid,kalian kesawah,dan kalian nyebar.”
Orang0orang     :”Baik pak RT “(kemudian orang0orang meyebar dan sebagian ada yang keluar panggung)
SETELAH BEBERAPA SAAT SEORANG ADA YANG MASUK SAMBIL MEMBAWA SANDAL JEPIT DENGAN TERBOPOH-BOPOH
Lek Sono            :”Mbok Parto    mbok-mbok     mbok Parto saya menemukan sandal lek War”
Orang-orang       :”Dimana lek sono menemukannya ?”
Lek sono             :”Saya menemukannya dipinggir kali.”
Orang-orang       :”Tadi malam kan banjir,mungkin lek War hanyut.”(orang-orang kaget.Mbok Parto berteriak histeris)
Ibu                        :”Anakku hanyut     anakku hanyut!”(diikuti orang-orang)
Orang-orang         :”Lek War hanyut    lek War hanyut “(orang-orang sibuk mencari lek war)  
                                Setelah beberapa saat
LAMPU HIDUP DISUDUT PANGGUNG JAUH.TIBA-TIBA LEK WAR MUNCUL DENGAN JALAN KHASNYA SAMBIL MENGEMPIT TONGKAT DAN MENENTENG SATU SANDAL
Orang-orang        :”Itu lek War!”
<bok Parto           :”Anwar dari mana saja kamu nak ?”(orang-orang mengikuti)
Orang-orang         :”Hiya lek ,dari mana  saja lek War semalaman?”
Lek War               :”Dari nonton wayang”(jawabnya tegas) sudah ! saya ngantuk saya mau tidur pulang.”
LEK WAR BERJALAN PULANG SETELAH BEBERAPA LANGKAH LEK
          WAR TIBA-TIBA JONGKOK DAN MERABA-RABA
Orang-orang          :”Ngapain lek,cari apa?”
Lek war                 :”Sandal”(jawab ia tegas)
Orang-orang          :”Sandal ini lek ?”
Lek War                :”(setelah diraba)Betul ini ! kalian ini main ambil sandal orang sembarangan (lek War pergi )
Orang-orang           :”Oh      wong edan !”
Pak RT                   :”Ayo kita bubar”
KEMUDIAN ORANG-ORANG BUBAR DAN LAMPU MEREDUP
 .
SELESAI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar