Penulis:
Amin sholikhuddin.
Diangkat dari sebuah cerpen karya :
Ahmadun Y Harfanda
Thn : 1992
SETTING PERTAMA
DIAWALI
DARI SEBUAH PEMBACAAN DARI BELAKANG
PANGGUNG
Semua warga kampung yakin, lelaki
bujang berusia 30 thn itu buta. Matanya memang terbuka,tetapi orang yang
menatapnya hanya melihat selaput putih, namun lelaki yang biasa dipanggil lek
war itu, tak pernah sedikitpun merasa buta.Dalam dirinya hanya ada satu
keyakinan bahwa dunia ini memang gelap dan serba hitam, dia amat yakin matanya
dapat melihat keserba gelapan dan keserba hitaman itu secara nyata.
Ia
sudah amat sering mendengar cerita ataupun penjelasan dari ayah ibunya
saudara-saudara dan tetangganya tentang wajah dunia yang sebenarnya, tentang
matahari yang pijar panasnya menyilaukan, tentang pohon-pohon yang berdaun
hijau,tentang kulitnya yang coklat kehitam-hitaman, tentang kucingnya yang
berkaki empat dan berbulu putih kecoklat-coklatan, dan tentang apa saja
disekitarnya.
Tetapi
lek war tak percaya itu semua, ia menganggap semua itu adalah bayangan-bayangan
mereka seperti ketika ia membayangkan semua yang ada di sekelilingnya.
LAMPU TERANG MENYINARI PANGGUNG KELUAR MBOK PARTO
SAMBIL MEMBAWA SULAK DAN BERSIH-BERSIH, MUNCUL LEK WAR DENGAN PAKAIAN TIDAK
SEPERTI BIASANYA DAN MENCARI SESUATU ( KOPYAH ).
Ibu ( mbok parto ) : “Anwar, kamu mau kemana ? “
Lek war :
“ Ke masjid ! “
Ibu : “ Anwar, kamu harus diantar
adikmu,agar tidak kesasar dan tidak nabrak-nabrak .
Nduk-nduk !.”
Adik
:” Ya bu ( adiknya lek war keluar
)
Ibu
:”Kamu antar masmu ke masjid ya ?”
Lek
war :”Tidak usah ! aku bisa jalan
sendiri.Aku tau dimana masjid itu.Aku bisa jalan sendiri ke sana.( jawab Anwar yakin )”
Ibu :” Lho ! kamu ini buta war,kamu belum
pernah jalan kesana,banyak parit dan selokan yang kamu lewati,kalau kamu
kecemplung selokan bagaimana?”
Adik :”Iya mas!( merespon ibunya )
Anwar :”Ibu ini bagaimana to! Kan sudah
saya katakan berkali-kali, aku ini tidak buta,aku ini seperti kalian,aku bisa
meliht masjid itu,bisa melihat selokan itu,dan bisa melihat semuanya.Sudahlah
ibu jangan menghawatirkanku.”
Ibu :”Kamu ini kok ngeyel to nak!”
Adik
:”Iya,memang ngeyel kok”
Anwar :”Kamu anak kecil jangan
ikut-ikutan.
Ibu yang ngeyel,aku ini
bisa melihat semuanya,bahkan aku juga tau,kalau kerbau itu warnanya hijau dan
ekornya diatas,terus kambing bewarna kuning,ular yang suka makan gajah,pokoknya
semua saya tau ( sambil sedikit marah)”
Ibu :”Terserah kamu war.( ibu
menyerah )
Tapi ! kalau kamu tidak mau diantar,kamu bawa
tongkat. ( kemudian ibu mengambil tongkat kesudut lain)”
Anwar :”Wah apalagi pakai tongkat bu! Aku
malu,apa memang aku sudah kakek-kakek, harus pakai tongkat segala,aku kan masih
muda,lihat ini aku belum bungkuk, aku masih bisa berdiri tegak dan berjalan
tegap ( jawab anwar sambil menegak tegakkan tubuhnya ) Sini tongkatnya,biar
saya kempit saja!”
KEMUDIAN ANWAR BERANGKAT
KEMASJID TANPA BANTUAN. HANYA TONGKATNYA YANG DIKEMPIT DIBAWAH KETIAK,DAN
BERJALAN LURUS SEPERTI SEORANG PEJABAT MILITER.
{lampu meredup setelah
keluarnya lek war dari panggung )
KEMUDIAN GANTI SETTING
DENGAN LATAR YANG BERBEDA.
SETTING KE DUA
(lampu meredup dan mengarah
ketengah panggung )
ADA BEBERAPA PEMUDA DUDUK
SAMBIL MEMBAWA GITAR DAN BERNYANYI LAGU ( nasib orang buta ciptaan rhoma irama
) SETELAH SELESAI LAK WAR MUNCUL DARI SUDUT PANGGUNG.
Pemuda
1 :”Lek war.Sore-sore begini mau
kemana?”
Pemuda
11 :”Saya tuntun ya! (sambil memegang
tangan lek war )
Lek war :”Apa?di tuntun? Memangnya saya tidak
bisa jalan sendiri !memangnyan saya ini buta (jawab lek war agak marah,sambil
melepaskan tangannya yang dipegang)
Pemuda
111 :”Banyak selokan lho lek war,
nanti kalau kecemplung gimana?”
Lekwar :”Apa kecemplung selokan!memangnya saya
tidak pernah melihat selokan!”
Pmeuda
111 :”Memangnya lek war pernah lihat
selokan ya ? selokan itu apa to lek!”
Lek
war :”Rernah saja.selokan itu kan tanah yang
banyak rumputnya to ! dan dibuat untuk sepak bola “
Koor :”Wah lek war ngawur ! selokan
itu banyak airnya.”
Lek
war :”Lha iya,maksudku tadi
banyak airnya kalau hujan.Tapi kan banyak
rumputnya to.”
Pemuda
11 :”Benar juga lek ! ditepi selokan
memang banyak rumputnya,lek war ternyata pinter juga ya.”
Lekwar :”Memangnya kalian saja yang pinter,sudah
sana kalian jangan ngrubung saya terus,malu.”
PEMUDA-PEMUDA SEDIKIT
MENJAUHI LEKWAR,KEMUDIAN TERUS BERJALAN.TIDAK SELANG BEGITU LAMA LEK WAR
KECEMPLUNG SELOKAN DAN PARAPEMUDA TERTAWA,KEMUDIAN PARA PEMUDA LARI UNTUK
MENOLONG LEK WAR
Koor :”Lha itu yang namanya selokan lek
war ( goda mereka )
Lek
war :”Lha iya siapa bilang ini
bakwan! Benar kan banyak airnya”
Pemuda
1 :”Kenapa lek war masuk selokan !
kecemplung ya lek?”
Lek
war :”Waaaa….h
!kalian ini kok tidak tanggap,saya ini kan sedang mengukur dalamnya selokan ini
dengan tongkat,ternyata dalam juga ya?lihat ini tongkat saya basah sampai ke
pangkalnya,tubuh saya juga ikut basah.”
Pemuda
111 :”Waaah lek war ini bagaimana to !
sudah jelas-jelas kecemplung kok masih mungkir juga, makanya kalau dituntun
jangan menolak.”
Lek
war :”Kalian ini kok tidak percaya
to!saya ini tidak kecemplung,tapi memang sengaja nyemplung,untuk menjajaki
kedalaman selokan ini.Anak kecil jangn suka ngeyel.”
MEREKA MEMBANTU MEMBERSIHKAN
TUBUH LEK WAR SAMBIL MEMASANGKAN SANDAL LEKWAR.
Pemuda
11 :”Pulang saja dulu lek,ganti
baju dulu nanti masuk angin lagi!”
KEMUDIAN LEK WAR KEMBALI DAN
TETAP BERJALAN LURUS BAK SEORANG MILITER, KEMUDIAN PEMUDA-PEMUDA SADAR LEK WAR
DALAM BAHAYA
Koor :”Awas leeeee…k “
TAPI MEREKA
TERLAMBAT DAN LAK WAR MENABRAK POHON
KEMUDIAN LEK WAR JATUH DAN
SERGERA BANGKIT,KEMUDIAN MALAH MEMELUK-MELUK POHON TERSEBUT.KEMUDIAN SAMBIL
MENUTUPI JIDATNYA PEMUDA TERTAWA DAN SEGERA MERUBUNGNYA
Pemuda
1 :”Lek war gimana to.jalan kok
nabrak-nabrak pohon”
Lek
war :”Nabrak-nabrak pohon dengkulmu,saya
hanya mau mengukur pohon ini dengan tangan saya,kalian tidak tau ya,pohon ini
dulu yang nanam saya dengan bapak saya. Dulu ketika saya masih kecil saya ingn
tau sekarang besarnya sudah seberapa.”
Pemuda
111 :”Sudah lek! Ayo kita antar,nanti jatuh-jatuh
lagi.”
KALI INI LEK WAR TIDAK
MENOLAK. MEREKA KELUAR BERSAMA DAN DIIRINGIDENGAN NYANYIANLAMPU MEREDUP DAN
GANTI SETTING
SETTING KE TIGA
DILANJUTKAN DENGAN BACAAN
MONOLOG DARI BELAKANG PANGGUN HINGGA PADA SUATU HARI WARGA SEKAMPUNG
GEGER,KARENA TIBA-TIBA LELAKI ITU HILANG DARI PEREDARAN,MULU-MULA MBOK PARTO
(KEMUDIAN
LANGSUNG DISAMBUNG DENGAN
KELUARNYA MBOK PARTO DALAM KEADAAN PANIK DAN MENCARI-CARI KESELURUH PANGGUNG).
Ibu :”War ! War ! anu War ! dimana kau
nak,dimana kau sayang Anwar…Anwar …. (kemudian ibu keluar dan mengambil
kentongan dan menabuhnya keras-keras dengan meminta tolong kepada
warga.Kemudian warga keluar.(seluruh pemain))
Orang-orang :”Ada apa mbok,ada apa?”
Ibu :”Anwar anwar
(gagap)
Orang-orang :”Iya memangnya kenapa dengan Anwar”
Ibu :”Anwar hilang “(
Orang-orang terkejut )
Pak RT :”Mari kita cari lek War!kalian
kemasjid,kalian kesawah,dan kalian nyebar.”
Orang0orang :”Baik pak RT “(kemudian orang0orang
meyebar dan sebagian ada yang keluar panggung)
SETELAH BEBERAPA SAAT
SEORANG ADA YANG MASUK SAMBIL MEMBAWA SANDAL JEPIT DENGAN TERBOPOH-BOPOH
Lek
Sono :”Mbok Parto mbok-mbok mbok Parto saya menemukan sandal lek War”
Orang-orang :”Dimana lek sono menemukannya ?”
Lek
sono :”Saya menemukannya
dipinggir kali.”
Orang-orang :”Tadi malam kan banjir,mungkin lek War
hanyut.”(orang-orang kaget.Mbok Parto berteriak histeris)
Ibu :”Anakku hanyut anakku hanyut!”(diikuti orang-orang)
Orang-orang :”Lek War hanyut lek War hanyut “(orang-orang sibuk mencari
lek war)
Setelah
beberapa saat
LAMPU HIDUP DISUDUT PANGGUNG
JAUH.TIBA-TIBA LEK WAR MUNCUL DENGAN JALAN KHASNYA SAMBIL MENGEMPIT TONGKAT DAN
MENENTENG SATU SANDAL
Orang-orang :”Itu lek War!”
<bok
Parto :”Anwar dari mana saja
kamu nak ?”(orang-orang mengikuti)
Orang-orang :”Hiya lek ,dari mana saja lek War semalaman?”
Lek
War :”Dari nonton wayang”(jawabnya tegas)
sudah ! saya ngantuk saya mau tidur pulang.”
LEK WAR
BERJALAN PULANG SETELAH BEBERAPA LANGKAH LEK
WAR TIBA-TIBA JONGKOK DAN MERABA-RABA
Orang-orang :”Ngapain lek,cari apa?”
Lek
war :”Sandal”(jawab ia tegas)
Orang-orang :”Sandal ini lek ?”
Lek
War :”(setelah
diraba)Betul ini ! kalian ini main ambil sandal orang sembarangan (lek War
pergi )
Orang-orang :”Oh wong edan !”
Pak RT :”Ayo kita bubar”
KEMUDIAN
ORANG-ORANG BUBAR DAN LAMPU MEREDUP
.
SELESAI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar