TEATER
ELING
PMII
CABANG JEPARA
PENTAS
DALAM ACARA PELANTIKAN PENGURUS KOORCAB PMII
JAWA
TENGAH PERIODE 2006-2008
DI
HALAMAN PARKIR GEDUNG RRI SEMARANG
JUM'AT,
28 APRIL 2006
MEMENTASKAN
NASKAH DENGAN JUDUL
"MO
GO BO THO NGO".
SINOPSIS
Sepenggal bait akhir dasar huruf jawa yang
tidak sekedar ejaan, tetapi lebih daripada itu merupakan falsafah kehidupan
bagi orang jawa. Bait yang menceritakan kisah tragedi dua anak manusia dengan
jiwa tekat "bawalaksana". Keduanya gugur dengan
keyakinan suci yang disandarkan pada egoisme, arogansi dan eksistensi.
Sejak proklamasi dikumandangkan, segala
macam cara telah di lakukan oleh anak negeri untuk membangun bangsa Indonesia
menjadi bangsa yang besar. Laut, lembah, gurun, tebing, gunung, telah di susuri oleh anak negeri untuk
mencari solusi dari berbagai permasalahan bangsa. Namun semuanya seperti matahari,
datang dan pergi tanpa ada yang mampu menahannya.
Ada apa dengan negeri ini?
Benarkah di negeri ini, egoisme,
arogansi, eksistensi, telah menggeser kedudukan Tuhan? dan telah membatu
menjadi pagan zaman? Sesama anak negeri harus saling mencaci demi sebuah
mahkota yang bernama "aku". "Akulah birokrat yang
paling berjasa, akulah politikus yang paling berperan, akulah ilmuwan yang
paling terdepan, akulah seniman yang paling suci dan tinggi, dan aku-aku lain
yang asing, bisu dan tuli bagi yang lain.
Akibat dari semua ini adalah, tumbuhnya rasa curiga dan tidak percaya. Membunuh, memusnahkan, fitnah, cacian, adalah
jalan satu-satunya untuk memperjuangkan "aku".
Semua ini telah terjadi, namun haruskah
terulang lagi? Atau mungkin ini merupakan sebuah mesin raksasa yang tersusun
dari roda-roda yang saling menghimpit dan memutar jarum detik, menit, dan jam?
berjalan searah menapak dua belas jejak yang selalu terulang dari titik nol
menuju titik klimaks dan dari titik klimaks menuju titik nol? Yang solusi ahir
dari semua ini adalah "MO GO BO THO NGO"?. Duh Gusti
Sang Hyang Tunggal, Ingsun pasrahaken jiworoga Ingsun dumateng Panjenengan..
KRU PEMENTASAN
Judul, MO GO BO THO NGO. Karya : M. Ali
Burhan, Penanggung Jawab : Lurah (Fuji Amar), Produser
: Amin f , Sutradara : M. Ali Burhan, Asisten
Sutradara : Ni'am, Setting panggung : Sholeh, Make
up : Nikmah, Musik : Pholo, Property :
Usro', Pemain : Brekele , Alun e, Nikmah, Anik, Bubah, Lethu,
Thoni, Dul, Hana, Saifudin.
SESUATU DIBALIK SESUATU
Naskah ini terinspirasi dari upacara
tradisional "Perang Obor Tegalsambi"
yang dikonfersikan dalam bentuk pementasan dengan tema yang lain dari asalnya.
Upacara tradisional "Perang Obor Tegalsambi"
atau "Obor-oboran", merupakan salah satu
upacara tradisional yang dimiliki oleh masyarakat Kabupaten Jepara, khususnya
desa Tegalsambi, kecamatan Tahunan, kabupaten Jepara .
Upacara tradisional ini diadakan setiap
tahun sekali yang jatuh pada hari Senin Pahing malam
Selasa Pon di bulan "Besar"
(Dzulhijjah), diselenggarakan atas dasar kepercayaan masyarakat desa Tegalsambi
terhadap legenda yang terjadi di desa tersebut. Namun sekarang, upacara
tradisional "Perang Obor" dipergunakan untuk sarana "Sedekah Bumi"
sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan Rahmat, Hidayah, serta
Taufik-Nya kepada warga Tegalsambi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar