Sabtu, 01 Agustus 2015

"MO GO BO THO NGO".



TEATER ELING
PMII CABANG JEPARA

PENTAS DALAM ACARA PELANTIKAN PENGURUS KOORCAB PMII
JAWA TENGAH PERIODE 2006-2008
DI HALAMAN PARKIR GEDUNG RRI SEMARANG
JUM'AT, 28 APRIL 2006
MEMENTASKAN NASKAH DENGAN JUDUL
"MO GO BO THO NGO".

SINOPSIS
Sepenggal bait akhir dasar huruf jawa yang tidak sekedar ejaan, tetapi lebih daripada itu merupakan falsafah kehidupan bagi orang jawa. Bait yang menceritakan kisah tragedi dua anak manusia dengan jiwa tekat "bawalaksana". Keduanya gugur dengan keyakinan suci yang disandarkan pada egoisme, arogansi dan eksistensi.
Sejak proklamasi dikumandangkan, segala macam cara telah di lakukan oleh anak negeri untuk membangun bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar. Laut, lembah, gurun, tebing, gunung,  telah di susuri oleh anak negeri untuk mencari solusi dari berbagai permasalahan bangsa. Namun semuanya seperti matahari, datang dan pergi tanpa ada yang mampu menahannya.
Ada apa dengan negeri ini?
Benarkah di negeri ini, egoisme, arogansi, eksistensi, telah menggeser kedudukan Tuhan? dan telah membatu menjadi pagan zaman? Sesama anak negeri harus saling mencaci demi sebuah mahkota yang bernama "aku". "Akulah birokrat yang paling berjasa, akulah politikus yang paling berperan, akulah ilmuwan yang paling terdepan, akulah seniman yang paling suci dan tinggi, dan aku-aku lain yang asing, bisu dan tuli bagi yang lain.
Akibat dari semua ini adalah,  tumbuhnya rasa curiga dan tidak percaya.  Membunuh, memusnahkan, fitnah, cacian, adalah jalan satu-satunya untuk memperjuangkan "aku".
Semua ini telah terjadi, namun haruskah terulang lagi? Atau mungkin ini merupakan sebuah mesin raksasa yang tersusun dari roda-roda yang saling menghimpit dan memutar jarum detik, menit, dan jam? berjalan searah menapak dua belas jejak yang selalu terulang dari titik nol menuju titik klimaks dan dari titik klimaks menuju titik nol? Yang solusi ahir dari semua ini adalah "MO GO BO THO NGO"?. Duh Gusti Sang Hyang Tunggal, Ingsun pasrahaken jiworoga Ingsun dumateng Panjenengan..

KRU PEMENTASAN
Judul, MO GO BO THO NGO. Karya : M. Ali Burhan, Penanggung Jawab : Lurah (Fuji Amar), Produser : Amin f , Sutradara : M. Ali Burhan, Asisten Sutradara : Ni'am, Setting panggung : Sholeh, Make up : Nikmah, Musik : Pholo, Property : Usro', Pemain : Brekele , Alun e, Nikmah, Anik, Bubah, Lethu, Thoni, Dul, Hana, Saifudin.

SESUATU DIBALIK SESUATU
Naskah ini terinspirasi dari upacara tradisional "Perang Obor Tegalsambi" yang dikonfersikan dalam bentuk pementasan dengan tema yang lain dari asalnya. Upacara tradisional "Perang Obor Tegalsambi" atau "Obor-oboran", merupakan salah satu upacara tradisional yang dimiliki oleh masyarakat Kabupaten Jepara, khususnya desa Tegalsambi, kecamatan Tahunan, kabupaten Jepara .
Upacara tradisional ini diadakan setiap tahun sekali yang jatuh pada hari Senin Pahing malam Selasa Pon di bulan "Besar" (Dzulhijjah), diselenggarakan atas dasar kepercayaan masyarakat desa Tegalsambi terhadap legenda yang terjadi di desa tersebut. Namun sekarang, upacara tradisional "Perang Obor" dipergunakan untuk  sarana "Sedekah Bumi" sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa  atas limpahan Rahmat, Hidayah, serta Taufik-Nya  kepada warga Tegalsambi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar