SINOPSIS
Sepenggal bait akhir dasar huruf jawa yang
tidak sekedar ejaan, tetapi lebih daripada itu merupakan falsafah kehidupan
bagi orang jawa. Satu Siklus kehidupan yang terlukis indah, penuh warna dan
pesona, ada tawa, tangis, senyum,
jerit, ego, pasrah, dan gambar-gambar lain yang kadang tak terlukis
dalam kata, ataupun abjad.
Bumi hanyalah segumpal debu yang terserak
di hamparan tata surya. Seperti bait honocoroko, bumipun akan selalu hidup dan
berubah. Manusia, sebagai molekul kehidupan,
merupakan obyek ciptaan yang paling mulya. Di beri amanah untuk
menyangga bumi. Agar manusia tunduk dan patuh kepada-Nya.
Karena dunia sudah kian renta, bumi sudah
mulai penat, langit sudah bosan, lautpun sudah mulai marah, maka saatnya kita
membaca, moco kasunyatan. Belum sempat kita menyeka airmata Aceh dan belum
selesai bait Istighfar terlantun. Merapi memerah, belum sempat kita berdo'a,
Jogja telah rata dengan tanah. Inikah janji-Mu? "Apabila bumi di
goncang dengan goncangannya (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan
beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan manusia bertanya : mengapa bumi
(jadi begini)? Padahari itu bumi menceritakan beritanya".
Dari sini, haruskah kita tetap membatu dan
bisu? Menunggu waktu sambil memuja pagan-pagan zaman yang kian mempesona? saatnya kita “menggeledah diri”,
mengorek serpihan-serpihan nurani yang selama ini tercampak di sudut hati.
Mereka adalah saudara kita, sedulur kita, bagian dari denyut nadi kita.
Semua ini telah terjadi, namun haruskah
terulang lagi? Atau mungkin hidup merupakan sebuah mesin raksasa yang tersusun
dari roda-roda yang saling menghimpit dan memutar jarum detik, menit, dan jam?
berjalan searah menapak dua belas jejak yang selalu terulang dari titik nol
menuju titik klimaks dan dari titik klimaks menuju titik nol? Yang solusi akhir
dari semua ini adalah "MO GO BO THO NGO"?. “Duh Gusti Sang
Hyang Tunggal, Ingsun pasrahaken jiworoga Ingsun dumateng Panjenengan.”
KRU PEMENTASAN
Judul, MO GO BO THO NGO. Karya : M. Ali
Burhan, Penanggung Jawab : Lurah Eling (Fuji Amar)
dan Lurah Tuman (Fatoni), Produser : Amin f , Sutradara
: M. Ali Burhan, Asisten Sutradara : Ni'am, Setting
panggung : Sholeh, Make up : Nikmah, Musik
: Pholo, Property : Usro', Pemain : Brekele ,
Lilik, Nurul, Arul, Alun e, Nikmah, Anik, Bubah, Lethu, Thoni, Fad, Hana,
Saifudin.
SESUATU DIBALIK SESUATU
Naskah yang pernah di pentaskan dalam acara
pelantikan pengurus Koorcab PMII Jawa Tengah periode 2006-2008 di halaman
parkir Gedung RRI Semarang, jum'at, 28 april 2006 lalu ini terinspirasi dari
upacara tradisional "Perang Obor Tegalsambi"
yang dikonfersikan dalam bentuk pementasan dengan tema yang lain dari asalnya.
Upacara tradisional "Perang Obor Tegalsambi"
atau "Obor-oboran", merupakan salah satu
upacara tradisional yang dimiliki Kabupaten Jepara, khususnya desa Tegalsambi,
kecamatan Tahunan.
Upacara tradisional ini diadakan setiap
tahun sekali yang jatuh pada hari Senin Pahing
malam Selasa Pon di bulan "Besar"
(Dzulhijjah), diselenggarakan atas dasar kepercayaan masyarakat desa Tegalsambi
terhadap legenda yang terjadi di desa tersebut. Namun sekarang, upacara
tradisional "Perang Obor" dipergunakan untuk sarana "Sedekah Bumi"
sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan Rahmat, Hidayah, serta
Taufik-Nya kepada warga Tegalsambi.
Jepara,
25 Juni 2006
* * * * *
Tidak ada komentar:
Posting Komentar