Sabtu, 01 Agustus 2015

MO GO BO THO NGO



Karya: M. Ali Burhan

Panggung sunyi, hanya terdengar lamat seperti suara-suara do'a, manusia-manusia itu memasuki panggung dan masing-masing menghampiri obor yang masih mati. Salah satu dari mereka duduk di tengah-tengah panggung. Perlahan suara-suara itu lenyap seiring datangnya tiga sosok wanita yang masing-masing membawa bendera, bunga dan obor.

Wanita yang membawa bunga menaburkan bunga keseluruh sudut-sudut panggung seolah sedang memberkati mengiringi penyulutan obor dan penempatan bendera merah putih. Setelah prosesi selesai, ketiga wanita itu meninggalkan tempat.

Manusia-manusia itu seolah bercakap dengan yang lain, namun masing-masing tidak mampu mengeluarkan suara, ada yang berteriak tetapi suara itu seolah lenyap di telan gegap riuh pertengkaran otak dan nafsu.

Seseorang yang duduk ditengah perlahan mengambil bendera dan mengangkatnya keatas, dia berusaha berteriak tetapi suara itu tidak terdengar oleh siapapun.

Seseorang dengan membawa obor ditangan mendekatinya dengan sorot mata curiga dan benci. Tiba-tiba ia memukulkan obor itu ketubuh  orang yang memegang bendera. Suara jerit kesakitan membahana mengisi ruang-ruang kosong di sudut hati.

Sorot-sorot liar saling curiga, memusuhi dan rasa benci memancar dari mata-mata itu, dengan obor ditangan tiba-tiba mereka saling memukul dan menyerang.
Suasana riuh dan kacau, sang pembawa bendera bingung dan takut namun ia tetap memegang erat bendera ditangannya. Tiba-tiba terdengar suara yang memerintahkan ia agar segera pergi menyelamatkan bendera.

"Selamatkan…, selamatkan dia!!!, selamatkaaaaan…."

Orang yang membawa bendera yang terjebak ditengah-tengah perang api segera pergi menyelamatkan bendera. Setelah bendera diselamatkan ia segera melesat dan bergabung dengan yang lain bertarung membela ekstensi dan ego masing-masing.

Setelah semuanya penat, lelah dan mati. Lamat terdengar kidung "Darah Juang" mengiringi tiga wanita dengan membawa bendera memasuki panggung dan meletakkan bendera itu ditempatnya semula. Wanita-wanita itu memeriksa mayat-mayat yang terkapar dan menaburinya dengan bunga.

Selesai……….!
Jepara, 26 April 2006


KRU PEMENTASAN
TEATER "ELING" PMII JEPARA

MO GO BO THO NGO
Karya : M. Ali Burhan
Penanggung Jawab: Lurah
Produser : Amin f
Sutradara : M. Ali Burhan
Asisten sutradara : Ni'am
Setting panggung : Sholeh
Make up : Nikmah
Musik : Pholo
Property : Usro'
Pemain :
Brekele
Alun e
Nikmah
Anik
Bubah
Lethu
Thoni
Dul
Hana
Saifudin

 



MO GO BHO THO NGO

SINOPSIS
Sepenggal bait akhir dasar huruf jawa yang tidak sekedar ejaan, tetapi lebih daripada itu merupakan falsafah kehidupan bagi orang jawa. Bait yang menceritakan kisah tragedi dua anak manusia dengan jiwa tekat "bawalaksana". Keduanya gugur dengan keyakinan yang suci untuk terus menegakkan jiwa amanah.
Sejak proklamasi dikumandangkan, segala macam cara telah di lakukan oleh anak negeri untuk membangun bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar. Laut, lembah, gurun, tebing, gunung,  telah di susuri oleh anak negeri untuk mencari solusi dari berbagai permasalahan bangsa. Namun semuanya seolah seperti senja di ujung cakrawala, pergi tanpa ada yang mampu menahannya.
Ada apa dengan negeri ini?
Benarkah di negeri ini, egoisme, arogansi, eksistensi, telah menggeser kedudukan Tuhan? dan telah membatu menjadi pagan zaman? Sesama anak negeri harus saling mencaci demi sebuah mahkota yang bernama "aku". "Akulah birokrat yang paling berjasa, akulah politikus yang paling berperan, akulah ilmuwan yang paling terdepan, akulah seniman yang paling suci dan tinggi, dan aku-aku lain yang asing, bisu dan tuli bagi yang lain.
Akibat dari semua itu adalah,  tumbuhnya rasa curiga dan tidak percaya.  Membunuh, memusnahkan, fitnah, cacian, adalah jalan satu-satunya untuk memperjuangkan "aku".
Semua ini telah terjadi, namun haruskah terulang lagi? Atau mungkin ini merupakan sebuah mesin raksasa yang tersusun dari roda-roda yang saling menghimpit dan memutar jarum detik, menit, dan jam, berlalan searah menapak dua belas jejak yang selalu terulang dari titik nol menuju titik klimaks dan dari titik klimaks menuju titik nol? Solusi ahir dari semua ini adalah "MO GO BO THO NGO".


SESUATU DIBALIK SESUATU
Naskah ini terinspirasi dari upacara tradisional "Perang Obor Tegalsambi" yang dikonfersikan dalam bentuk pementasan dengan tema yang lain dari asalnya. Upacara tradisional "Perang Obor Tegalsambi" atau "Obor-oboran", merupakan salah satu upacara tradisional yang dimiliki oleh masyarakat Kabupaten Jepara, khususnya desa Tegalsambi, kecamatan Tahunan, kabupaten Jepara .
Upacara tradisional ini diadakan setiap tahun sekali yang jatuh padahari senin pahing malam selasa pon di bulan "Besar" (Dzulhijjah), diselenggarakan atas dasar kepercayaan masyarakat desa Tegalsambi terhadap legenda yang terjadi di desa tersebut.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar