Karya: M. Ali Burhan
Panggung
sunyi, hanya terdengar lamat seperti suara-suara do'a, manusia-manusia itu
memasuki panggung dan masing-masing menghampiri obor yang masih mati. Salah
satu dari mereka duduk di tengah-tengah panggung. Perlahan suara-suara itu
lenyap seiring datangnya tiga sosok wanita yang masing-masing membawa bendera, bunga
dan obor.
Wanita
yang membawa bunga menaburkan bunga keseluruh sudut-sudut panggung seolah
sedang memberkati mengiringi penyulutan obor dan penempatan bendera merah
putih. Setelah prosesi selesai, ketiga wanita itu meninggalkan tempat.
Manusia-manusia
itu seolah bercakap dengan yang lain, namun masing-masing tidak mampu
mengeluarkan suara, ada yang berteriak tetapi suara itu seolah lenyap di telan gegap
riuh pertengkaran otak dan nafsu.
Seseorang
yang duduk ditengah perlahan mengambil bendera dan mengangkatnya keatas, dia
berusaha berteriak tetapi suara itu tidak terdengar oleh siapapun.
Seseorang
dengan membawa obor ditangan mendekatinya dengan sorot mata curiga dan benci.
Tiba-tiba ia memukulkan obor itu ketubuh
orang yang memegang bendera. Suara jerit kesakitan membahana mengisi
ruang-ruang kosong di sudut hati.
Sorot-sorot
liar saling curiga, memusuhi dan rasa benci memancar dari mata-mata itu, dengan
obor ditangan tiba-tiba mereka saling memukul dan menyerang.
Suasana
riuh dan kacau, sang pembawa bendera bingung dan takut namun ia tetap memegang
erat bendera ditangannya. Tiba-tiba terdengar suara yang memerintahkan ia agar segera
pergi menyelamatkan bendera.
"Selamatkan…,
selamatkan dia!!!, selamatkaaaaan…."
Orang
yang membawa bendera yang terjebak ditengah-tengah perang api segera pergi
menyelamatkan bendera. Setelah bendera diselamatkan ia segera melesat dan
bergabung dengan yang lain bertarung membela ekstensi dan ego masing-masing.
Setelah
semuanya penat, lelah dan mati. Lamat terdengar kidung "Darah
Juang" mengiringi tiga wanita dengan membawa bendera memasuki
panggung dan meletakkan bendera itu ditempatnya semula. Wanita-wanita itu
memeriksa mayat-mayat yang terkapar dan menaburinya dengan bunga.
Selesai……….!
Jepara,
26 April 2006
KRU PEMENTASAN
TEATER "ELING"
PMII JEPARA
MO GO BO THO NGO
Karya : M. Ali Burhan
Penanggung Jawab: Lurah
Produser : Amin f
Sutradara : M. Ali Burhan
Asisten sutradara : Ni'am
Setting panggung : Sholeh
Make up : Nikmah
Musik : Pholo
Property : Usro'
Pemain :
Brekele
Alun e
Nikmah
Anik
Bubah
Lethu
Thoni
Dul
Hana
Saifudin
MO GO BHO THO NGO
SINOPSIS
Sepenggal
bait akhir dasar huruf jawa yang tidak sekedar ejaan, tetapi lebih daripada itu
merupakan falsafah kehidupan bagi orang jawa. Bait yang menceritakan kisah
tragedi dua anak manusia dengan jiwa tekat "bawalaksana". Keduanya
gugur dengan keyakinan yang suci untuk terus menegakkan jiwa amanah.
Sejak
proklamasi dikumandangkan, segala macam cara telah di lakukan oleh anak negeri
untuk membangun bangsa Indonesia
menjadi bangsa yang besar. Laut, lembah, gurun, tebing, gunung, telah di susuri oleh anak negeri untuk
mencari solusi dari berbagai permasalahan bangsa. Namun semuanya seolah seperti
senja di ujung cakrawala, pergi tanpa ada yang mampu menahannya.
Ada apa dengan negeri ini?
Benarkah di
negeri ini, egoisme, arogansi, eksistensi, telah menggeser kedudukan Tuhan? dan
telah membatu menjadi pagan zaman? Sesama anak negeri harus saling mencaci demi
sebuah mahkota yang bernama "aku". "Akulah birokrat yang paling
berjasa, akulah politikus yang paling berperan, akulah ilmuwan yang paling
terdepan, akulah seniman yang paling suci dan tinggi, dan aku-aku lain yang
asing, bisu dan tuli bagi yang lain.
Akibat dari
semua itu adalah, tumbuhnya rasa curiga
dan tidak percaya. Membunuh,
memusnahkan, fitnah, cacian, adalah jalan satu-satunya untuk memperjuangkan
"aku".
Semua ini
telah terjadi, namun haruskah terulang lagi? Atau mungkin ini merupakan sebuah
mesin raksasa yang tersusun dari roda-roda yang saling menghimpit dan memutar
jarum detik, menit, dan jam, berlalan searah menapak dua belas jejak yang
selalu terulang dari titik nol menuju titik klimaks dan dari titik klimaks
menuju titik nol? Solusi ahir dari semua ini adalah "MO GO BO THO
NGO".
SESUATU
DIBALIK SESUATU
Naskah ini
terinspirasi dari upacara tradisional "Perang Obor Tegalsambi" yang
dikonfersikan dalam bentuk pementasan dengan tema yang lain dari asalnya.
Upacara tradisional "Perang Obor Tegalsambi" atau
"Obor-oboran", merupakan salah satu upacara tradisional yang dimiliki
oleh masyarakat Kabupaten Jepara, khususnya desa Tegalsambi, kecamatan Tahunan,
kabupaten Jepara .
Upacara
tradisional ini diadakan setiap tahun sekali yang jatuh padahari senin pahing
malam selasa pon di bulan "Besar" (Dzulhijjah),
diselenggarakan atas dasar kepercayaan masyarakat desa Tegalsambi terhadap
legenda yang terjadi di desa tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar