Pada umur 12 tahun hingga umur 14 Tahun, R.A. Katini harus masuk
pingitan, berarti beliau harus menghadapi penjara adat yang telah dilakukan
turun-temurun didaerah jawa. Dan selama empat tahun ini ia harus berhadapan
dengan dozer-dozer permasalahan yang membuatnya hampir mengalami tingkat
depresi mental. Beliau hanya dapat merenung dan merenung tanpa dapat berbuat
apapun karena kehidupannya terbatas di dalam rumah pingitan.
Scane B1
Ayahanda :
Ananda, pada hari kamu genap umur 12 tahun, untuk itu sesuai dengan adat jawa,
sudah saatnya kamu masuk massa pingitan, dan kamu lepas dari pingitan ketika
kamu kelak bertemu dengan calon suamimu nanti.
R.A. Katini : Ayahanda, apakah yang dikatakan ayahanda serius.
Ayahanda :
Yah ini serius, dan ini sudah menjadi ketetapan adat dan tidak bisa diganggu
gugat. Ayahanda tidak dapat berbuat apapun karena ini sebuah ketetapan.
R.A. Kartini :
baiklah, apapun yang terjadi, tini siap menjalaninya, karena ini adalah
perintah ayahanda, dan sebagai anak yang berbakti, tini siap mentaati perintah
orang tua.
Scane B2
Keesokan harinya
(hari pertama R.A. Kartini dalam dunia pingitan) R.A. Kartini merenung dan
kemudian datang simbok pembantu membawakan makanan.
R.A. Kartini :
(R.A. Kartini sambil Menangis meratapi dunia pingitan) Duh gusti Allah,
haruskah cita-citaku selesai disini, yaAllah aku sepeti burung yang terpenjara
dalam sangkarnya, tersiksalah aku. Gusti Allah yang agung berilah aku kekuatan
untuk menghadapi semua ini, baru satu hari aku menjalani massa pingitan seolah
– olah aku hidup satu tahun di neraka, duh gusti Allah, dug gusti ingkang murba
waseso, tunjukkan aku jalan untuk dapat keluar dari dunia yang sempit ini, aku
tidak kuat menghadapi hal yang seperti
ini, gusti Allah, aku ini masih kecil, masih berumur 12 tahun, tapi mengapa aku
harus menghadapi hal yang seperti ini…..
Simbok :
Den Tini, ini makanannya, ayo dimakan, sebelum dingin, lagian makanan kalau
tidak dimakan mubadir, nanti dimakan setan loh…..
R.A. Kartini :
Simbok, tini sedang nggak enak makan, jadi bawa aja keluar..
Simbok :
Emang kenapa den, ada masalah apa sehingga den ayu nggak nafsu makan, jangan –
jangan den tini pingin mempunyai suami, biar selesai massa pingitannya.
R.A. Kartini :
aduh simbok, massa anak seusia tini pingin cepet kawin, wong suruh gendong anak
aja belum macem apalagi suruh nete anak, simbok bisa aja, mbok, aku merasa
tidak enak dan tidak setuju tentang hal pingitan ini, kok mengapa wanita
ningrat jawa harus mengalami massa pingitan? Kayaknya hukum ini tidak adil,
berat sebelah…..
Simbok :
Sudahlah, ini sudah menjadi hukum adat, den tini jangan melawannya, nanti
kualat loh?
R.A. Kartini :
Emang kalau kualat hukumannya apa mbok?
Simbok :
ya simbok sih kurang tahu, tapi yang jelas perbuatan melawan adat itu tidak
baik …….
R.A. Kartini :
Mbok, hari ini tini nggak nafsu makan, tini lagi pingin merenung
Simbok :
Merenung si merenung tapi jangan melupakan makan, nanti kalau tini sakit yang
repot simbok loh…….
R.A. Kartini :
sudah lah mbok, sekaran simbok keluarlah dulu, nanti kalau tini lapar, baru
tini makan,
Simbok :
Tapi janji yah, harus dimakan, soalnya semalam, den tini belum makan.
R.A. Kartini :
iya, nanti tini makan…….simbok…… (kemudian simbok keluar panggung).
Scane B3
Simbok
melaporkan kondisi R.A. Kartini tentang hal yang ia rasakan sehingga beliau
tidak nafsu makan.
Ndoro Sosoro :
(duduk disebuah kursi goyang sambil merokok dan bernyanyi) (lagu)
lir ilir-lir ilir tandure wus sumilir,
tak ijo royo-royo tak sengoh temanten anyar
cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi
lunyu-lunyu penekno
kanggo mbasuh dodot iro
dodot iro-dodot iro kumintir bedah ingpingir
dondomono jlumatono kanggo seboh mengko sore
mumpung padang
rembulane, mumpung jembar kalangane
yo surao sura iyo
Simbok :
(Datang dari belakang panggung) Ndoro, mohon maaf, ada hal yang harus saya
katakan tentang kondisi den tini
Ndoro Sosro :
Ada apa mbok..
Simbok :
anu ndoro,….anu….
Ndoro sosro :
Anu apa, tini minta kawin, biar tidak terlalu lama dalam dunia pingit
Simbok :
bukan itu ndoro, den tini dari kemarin jarang makan, dia merasa dirinya
terpenjara
Ndoro sosro :
oh masalah itu, yah begini mbok, trinil baru beberapa hari masuk pingitan, ya
jadi mungkin dia belum terbiasa dalam kehidupan barunya.
Simbok :
kata den tini, hal yang namanya pingitan itu baginya tidak adil, kenapa yang
mengalami hanya kaum perempuan, sedangkan yang laki-laki tidak.
Ndoro Sosro :
lah terus kamu jawab apa …….
Simbok :
Ndoro-ndoro, pertanyaan itukan bukan untuk simbok, ya jadinya simbok jawab
tidak tau
Ndoro Sosro :
itu namanya bukan jawaban.
Simbok :
tidak tau itukan sebuah jawaban (sambil tertawa).
Ndoro Sosoro :
eeeee pertanyaan yang pas buat simbok saat ini adalah ……..
Simbok :
(menjawab dengan cekatan) Tolong bikinkan kopi dan ambilkan buku terbaru
Ndoro Sosoro :
(tersenyum sambil berkata:) Betul sekali, wah aku nggak salah pilih orang,
sudah tua tapi cerdas.
Simbok :
yah itukan karena ketularan pinternya ndoro…
Ndoro Sosor :
ya ya yah,,,,,,. Oya kalau ngomong terus kapan kopinya ada?
Simbok :
iya ndoro, aku bikinkan…. (kemudian simbok membuatkan kopi, yang tidak lama
kemudian keluar lagi dengan membawa kopi)
Ndoro Sosoro :
ya Allah, alhamdulillah, ternyata aku tidak salah pilih punya pembantu,
kerjanya ulet, rajin, sabar dan perhatiannya terhadap anak-anakku seperti dia
menganggapnya sebagai anak sendiri.(kemudian melanjutkan nyanyian lir-ilirnya,
dan dengan selang waktu satu menit
kemudian simbok datang dengan membawa kopi hangat)
Sibok :
Kopi datang tuan tenang (dengan dilagukan lirik jawa)
Ndoro Sosro :
Duh, ada wanita cantik menyanyi dimalam hari, mudah-mudahan bukan kuntilanak…
Simbok :
Alah tuan, massa
orang cantik seperti cinderela ini dibilang kuntilanak.
Ndoro Sosoro : yasudah, sekarang kamu lanjutkan aktifitas
kamu lagi, atau kalau sudah lelah silahkan istirahat dulu, karena besok masih
banyak kerjaan yang harus simbok selesaikan.
Simbok :
Injih ndoro.
Scane B4
Dialog dibelakang layar dengan diiringi adegan
kartini yang sedang menulis surat,
namun sebelum itu didahului dengan prolog
Prolog :
Dibaca dibelakang panggung) Setelah beberapa hari kemudian, banyak hal yang
dilakukan oleh R.A. Kartini dalam mengisi kehidupan yang hampa didalam sangkar
burung yang sempit, diantaranya menulis Surat kepada sahabat karibnya Stella
yang saat itu sudah di Belanda dan orang yang dianggap ibu keduanya yaitu Nyonya
Abendanon Serta Nyonya Oving Soer.
R.A. Kartini :
(Adegan menulis Surat)
S B L[1] : Kepada Nyonya Abendanon yang
terhormat …………
Bahasa mana sebenarnya , meskipun kita kuasai dengan
baik, dapat mengutarakan getaran jiwa setepat-tepatnya, bahasa semacam itu
tidak ada, saya sependapat dengan
pendapat nyonya, bahasa itu tidak ada, setidak – tidaknya tidak ada dalam
bahasa lisan dan tulisan tetapi ada bahasa yang ajaib yang tak
terucapkan.bahasa itu tidak berwujud kata-kata maupun lambang huruf, tetapi
artinya dapat dimaklumi serta dapat dipahami oleh siapapun yang memiliki
perasaan,. Bahasa yang demikian itu dapat dipercaya sepenuhnya karena didalam
seluruh perbendaharaan katanya, kata dusta tidak terdapat.
Bahasa yang demikian itu adalah bahasa bahasa mata
yang suci, dan bersih, cermin jiwa yang cerah,. Dan kalau nyonya dapat melihat,
saya siang itu, lima helai kertas yang berbau harum halus bergetar dalam tangan
saya yang gemetar, Air mata harus menetes
melalui pipi saya maka tanpa mendengar bunyi satupun dari mulut saya, Nyonya
akan mengerti, semua yang terkandung dalam diri saya, apa
yang tidak dapat dinyatakan dengan mulut maupun dengan pena, bagiku
matalah yang terapung dalam selubung air mata menengadah kelangit, seolah
mencari ahirnya disana, ditengah-tengah malaikat tuhan yang lain, kami
menemukan malaikat yang seorang, oleh
karena hati kami menangis, pedih melihat kemurungan yang banyak didunia ini,
malaikat itu turun dengan kepakan sayapnya yang halus, dia menghibur dan memenuhi kesedihan hati
kami dengan kegembiraan ilahi, Syukur!,
Syukur! Syukur!, seru tiap denyut jantung, tiap denyut nadi, dan tiasp helaan
nafas adalah doa syukur.[2]………………………..
………………Saya sangat sayang kepada perempuan, saya menaruh hati kepada nasibnya, karena dia
tidak dihargai,dan ditindas seperti yang masih terdapat dalam banyak negeri
dalam abad terang ini. Saya bela dia
dengan senang dan setia. Terimakasih, Nyonya yang mulia, atas kata-kata yang
menarik hati dan menyenangkan ini, yang secara terbuka, menyatakan belas
kasihan nyonya yang dalam. Perasaan
nyonya yang sungguh-sungguh turut menanggung derita sesama manusia, turut
menanggung derita umat Allah, yang berabad-abad lamanya dan samapi sekarang
masih juga dianiaya oleh manusia sesamanya : Kaum Laki-laki, Syukur
TuhanSyukurlah! Ada juga kiranya hati dan
pikiran yang mulia yang mengindahkan nasib dan kesengsaraan bumi perempuan
putera yang hendak menyalakan pelita dalam dunia perempuan yang gelap sengsara
itu, Hati perempuan bumi putera telah cukup hancur, jiwa anak tak bersalah
telah cukup menderita.[3]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar